BRIN Luncurkan Fasilitas AEET Tingkatkan Nilai Tambah Produk Nasional

  • 13 Mar 2026 10:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa pengembangan fasilitas High Energy Electron Accelerator (AEET) merupakan contoh konkret sinergi antara lembaga riset dan dunia industri. Sinergi ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi Indonesia.

“Fasilitas AEET ini merupakan contoh nyata bagaimana sinergi antara riset, teknologi, dan industri nasional. Sehingga dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang konkret bagi bangsa,” ujar Arif dalam sambutannya pada peluncuran fasilitas AEET di Ballroom Kawasan Sains dan Teknologi (KST) G.A. Siwabessy, Pasar Jumat Jakarta, Kamis 12 Maret 2026.

Kehadiran fasilitas ini menjadi tonggak penting penguatan kolaborasi antara riset, teknologi, dan industri nasional guna meningkatkan nilai tambah produk serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi. “Teknologi electron beam (E-Beam) yang digunakan dalam fasilitas AEET memiliki sejumlah keunggulan dibanding teknologi iradiasi lain seperti gamma dan sinar-X,” jelasnya.

Teknologi ini dinilai lebih cepat, lebih efisien, dan lebih mudah dikontrol untuk berbagai kebutuhan sterilisasi produk. Melalui teknologi tersebut, AEET mampu melakukan proses sterilisasi hingga 25 ton produk dalam waktu sekitar 1,5 jam, menjadikannya salah satu fasilitas yang efisien untuk mendukung kebutuhan industri.

Terutama di sektor pangan, kesehatan, dan kosmetik. Arif menambahkan bahwa fasilitas ini juga berpotensi mendukung berbagai program strategis pemerintah, termasuk peningkatan kualitas ekspor produk pangan serta program makan bergizi nasional melalui peningkatan keamanan dan masa simpan bahan pangan.

“Produk yang dapat diproses melalui fasilitas ini antara lain rempah-rempah, bahan baku kosmetik, produk kesehatan, bahan baku produk konsumen, hingga bahan pangan. Seperti beras dan makanan siap saji yang masa simpannya dapat diperpanjang hingga ratusan hari,” ucap Arif.

Menurutnya, kerja sama pengelolaan fasilitas AEET dengan industri juga berpotensi menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan. Dalam lima tahun masa kolaborasi, potensi pendapatan yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar Rp247 miliar, dengan sebagian di antaranya berkontribusi pada penerimaan negara.

“Kerja sama ini menunjukkan bahwa penelitian dan teknologi dapat berjalan beriringan dengan industri untuk meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperkuat ekosistem inovasi nasional,” katanya.

Peran industri dalam Komersialisasi Teknologi AEET

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Jayatunggal Sekarmulya, Michael Rusli menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan BRIN kepada pihak industri untuk berperan dalam komersialisasi teknologi AEET. “Kami merasa terhormat dapat berdiri bersama BRIN sebagai mitra dalam mengkomersialisasikan teknologi ini dan menghadirkan solusi inovatif yang mendukung pembangunan ekonomi Indonesia,” ujar Michael.

Menurutnya, teknologi E-Beam merupakan metode sterilisasi berbasis radiasi yang bersih, tidak meninggalkan residu pada produk dan tidak mengubah karakteristik produk. Ini menjadikannya sangat ideal untuk memastikan keamanan pangan dan berbagai produk industri. Ia menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi tersebut juga dapat mendukung berbagai program strategis pemerintah, khususnya dalam menjamin keamanan dan ketersediaan pangan.

“Dengan teknologi e-beam, bahan pangan dapat disterilisasi sehingga bebas dari bakteri sekaligus memiliki masa simpan yang lebih panjang. Ini sangat relevan untuk mendukung program pemerintah seperti penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat,” ujarnya. Selain meningkatkan keamanan pangan, teknologi tersebut juga dapat membantu memperpanjang masa simpan produk seperti daging, hasil laut, dan bahan pangan lainnya.

Sehingga memudahkan distribusi serta meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Michael menambahkan bahwa fasilitas ini juga membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas produk ekspor Indonesia yang kerap menghadapi hambatan standar keamanan pangan di pasar internasional.

“Melalui proses sterilisasi ini, produk dapat lebih aman dari kontaminasi bakteri dan memiliki daya simpan lebih lama. Sehingga peluang ekspor produk Indonesia juga semakin besar,” jelas Michael.

Dengan adanya fasilitas AEET, proses sterilisasi dapat dilakukan sebelum produk dikirim ke negara tujuan sehingga standar keamanan pangan internasional dapat terpenuhi. Peluncuran fasilitas AEET menandai langkah penting BRIN dalam mendorong hilirisasi hasil riset melalui kolaborasi dengan industri.

Dengan keterbukaan akses bagi peneliti, pelaku usaha, dan mitra internasional, BRIN berharap fasilitas ini dapat memperkuat ekosistem inovasi nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. (mfs)

Rekomendasi Berita