Merawat Musik Etnik dari Ranah Minang ke Ibu Kota
- 28 Feb 2026 01:08 WIB
- Jakarta
RRI. Co.ID, Jakarta- Ronal Lisand, pria kelahiran Bukittinggi, menghabiskan masa kecilnya di Payakumbuh sebelum akhirnya merantau dan menetap di Jakarta. Berasal dari suku Piliang dan tumbuh sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Ronal dibesarkan dalam keluarga sederhana.
Kedua orang tuanya merupakan pedagang kuliner di kampung halaman. Masa kecilnya berjalan sebagaimana anak-anak lain di pusat kota Payakumbuh, yang saat itu belum banyak terpapar kesenian tradisi. Pendidikan terakhirnya ditempuh hingga jenjang SMA.
Perkenalannya dengan musik etnik bermula pada masa remaja. Ronal mengatakan, saya bergabung dengan sebuah kelompok musik yang memainkan alat-alat konvensional, lalu saya memadukannya dengan instrumen etnik Minang.
“Dari sanalah kecintaannya pada kekayaan bunyi tradisi tumbuh", ujar Ronal, saat hadir langsung ke Studio RRI Pro 4 Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026 dalam acara Apresiasi Budaya Minangkabau.
“Dari sanalah beliau mulai sadar bahwa musik tradisi punya ruang yang sangat luas untuk dikembangkan,” sambungnya.
Kesungguhan Ronal menekuni jalur ini membuahkan prestasi. Secara pribadi, ia pernah meraih penghargaan sebagai Penata Musik Terbaik dalam ajang Festival Teater Jakarta wilayah timur. Bersama kelompoknya, ia juga berkesempatan tampil di beberapa negara di luar negeri, memperkenalkan warna musik etnik Minang kepada khalayak internasional.
Dukungan orang tua menjadi kekuatan tersendiri baginya. “Orang tua mendukung apa pun jalan yang saya pilih, asalkan itu baik,” tuturnya.
Hingga kini, Ronal masih aktif mengerjakan berbagai proyek musik berbasis etnik. Ia juga terbuka berkolaborasi dengan musisi lintas genre, mulai dari pop, metal, jazz, world music, hingga kontemporer.
Baginya, tradisi tidak harus berdiri sendiri, melainkan bisa berdialog dengan perkembangan zaman. “Harapannya, semakin banyak wadah, platform, panggung, dan dukungan dari semua pihak untuk musik etnik agar para praktisinya bisa terus hidup dan berkehidupan,” katanya.
Kepada generasi muda, khususnya pemuda Minang, Ronal berpesan agar tidak melupakan akar budaya sendiri. Ia mengingatkan kembali nasihat para senior dan tetua bahwa mengenal potensi budaya adalah langkah awal untuk menggali kekayaan yang masih tersembunyi di dalamnya.
Dari para musisi senior yang pernah ia temui dan bekerja sama dengannya, Ronal belajar tentang sikap terbuka, konsistensi berkarya, serta semangat membimbing generasi muda. “Kesenian berbasis tradisi bisa dinikmati semua kalangan dan semua generasi, asalkan kita mau menjaga dan terus mengeksplorasinya,” pungkasnya.