Menjaga Warisan Silat Tradisi dari Kampung Slipi untuk Jakarta
- 05 Mar 2026 00:47 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Perguruan Silat PS. Permata Sakti yang merupakan akronim dari Persatuan Masyarakat Jakarta telah berdiri sejak tahun 1974 di Kampung Slipi, menjadi salah satu wadah pelestarian seni bela diri tradisi Betawi yang tumbuh dari semangat kebersamaan warga, dan hingga kini tetap konsisten membina generasi muda dalam nilai-nilai kedisiplinan, keberanian, serta kecintaan terhadap budaya.
Nama Permata Sakti bukan sekadar identitas, melainkan simbol harapan agar setiap anggota menjadi permata berharga yang memiliki kekuatan lahir dan batin, sekaligus mencerminkan tekad untuk menjaga marwah silat sebagai bagian dari warisan budaya Jakarta.

Perguruan Silat PS. Permata Sakti ni dicetus oleh almarhum Bapak Imam Syafe’i Tamsil, nyang dikenal masyarakat Kampung Slipi dengan nama sapaan akrab Pi’i Gobet, dengan latar belakang awal sebagai organisasi sosial politik kebetawian. (Foto : Dok. Tarman)
Baca Juga: Merawat Warisan Kauman Tenabang Lewat Seni dan Ukhwah
Tarman Sri Surya, Pembina Kepelatihan Perguruan Perguruan Silat PS. Permata Sakti mengatakan, "Perguruan kite ini dicetus oleh almarhum Bapak Imam Syafe’i Tamsil, nyang dikenal masyarakat Kampung Slipi dengan name sapaan akrab Pi’i Gobet, dengan latar belakang awal sebagai organisasi sosial politik kebetawian, nyang kemudian bertransformasi menjadi perguruan silat karena keinginan untuk bergabung dengan induk organisasi pencak silat, sehingge langkah tersebut menjadi titik penting perubahan arah gerakan menjadi lebih fokus pada pembinaan seni bela diri tradisi," ujar Tarman, disaat wawancara melalui sambungan telepon, Selasa, 3 Maret 2026.
Beliau menyampaikan silat tidak hanya menjadi simbol,namun benar-benar hidup di tengah masyarakat dan menjadi jati diri anak-anak kampung, dan ini merupakan semangat yang diwariskan oleh pendirinya kepada generasi penerus.
.webp)
Tujuan utama Perguruan Silat PS. Permata Sakti ini adalah mengembangkan dan melestarikan seni bela diri silat tradisi agar tidak tergerus zaman, dan hingga kini tercatat sekitar 700 siswa dan siswi telah bergabung. (Foto, Dok: Tarman)
Baca Juga: Samrah Sikumbang Janti : Nada Mengalun Puitis di Tenabang
Sejak awal berdiri, tujuan utama sanggar ini adalah mengembangkan dan melestarikan seni bela diri silat tradisi agar tidak tergerus zaman, dan hingga kini tercatat sekitar 700 siswa dan siswi telah bergabung dengan syarat sederhana namun bermakna, yakni memiliki niat yang tulus serta sehat lahir dan batin, tanpa adanya kewajiban biaya latihan yang memberatkan, karena yang lebih diutamakan adalah komitmen dan keistiqomahan dalam berlatih.
Pimpinan sanggar yang kini meneruskan estafet kepemimpinan juga mengungkapkan, “Tidak semua murid sesuai dengan harapan kita, tetapi kita tidak boleh kecewa dan putus asa, tetap istiqomah membina mereka dengan sabar.”
.webp)
Perguruan PS. Permata Sakti telah aktif mengikuti berbagai ajang lomba festival pencak silat baik tingkat kota, maupun provinsi, termasuk Festival Lebaran Tenabang serta gelar budaya Wali Kota Jakarta Pusat di Lapangan Banteng. (Foto, Dok: Tarman)
Dalam perjalanannya, PS. Permata Sakti telah aktif mengikuti berbagai festival pencak silat baik tingkat kota maupun provinsi, termasuk Festival Lebaran Tenabang serta gelar budaya Wali Kota Jakarta Pusat di Lapangan Banteng, yang menjadi bukti eksistensi dan dedikasi mereka di ruang publik, sementara untuk ke depan harapan besar yang terus diperjuangkan adalah memiliki sekretariat yang layak dan aula latihan sendiri agar pembinaan dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Tarman mempunya harapan sederhananya, "Aye berharap kite memiliki tempat sendiri agar anak-anak bisa berlatih dengan nyaman dan terus mencintai silat tradisinye,” tutup Tarman penuh harap.
Baca Juga: Bukber Abang None Jakarta Utara Memperkuat Silaturahmi Lintas Generasi