Kelembutan Suami Kunci Harmoni Rumah Tangga

  • 05 Mar 2026 07:26 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Ajakan agar para suami memperlakukan istri dengan lebih lembut kembali digaungkan sebagai bagian dari upaya membangun keluarga yang penuh kasih dan keberkahan. Pesan ini menekankan bahwa seorang istri adalah perempuan yang dahulu dijaga dan dicintai keluarganya. Ketika menikah, ia berpindah tanggung jawab dalam bingkai amanah, sehingga suami berkewajiban menjaga kehormatan, perasaan, dan martabatnya.

Landasan utama ajaran tersebut terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur'an surat Surat An-Nisa ayat 19, Allah Ta’ala berfirman: وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ “Wa ‘aasyiruhunna bil ma’ruf” yang berarti, “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” Ayat ini menjadi prinsip dasar relasi suami-istri dalam Islam, yaitu membangun interaksi yang dilandasi kebaikan, penghormatan, dan akhlak yang santun.

Hal tersebut di tegaskan sabda Nabi Muhammad SAW: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.” Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 1162, Ahmad 2/250, dan Ibnu Hibban no. 4177, yang dinilai sahih oleh para ulama salaf. Hadis tersebut menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seorang suami bukan pada kekuatannya, tetapi pada kelembutannya terhadap istri.

Penjelasan para ulama menekankan bahwa membentak, memarahi, atau mengeraskan suara bukanlah cara menyelesaikan masalah rumah tangga. Sebaliknya, sikap tersebut berpotensi melukai hati pasangan dan mengganggu ketentraman keluarga. Islam menganjurkan penyelesaian persoalan dengan ketenangan, musyawarah, dan tutur kata yang baik.

Para ulama menjelaskan bahwa membentak, memarahi dengan suara keras, atau menggunakan kata-kata kasar bukanlah solusi dalam menghadapi persoalan rumah tangga. Sikap emosional justru berpotensi melukai hati dan merusak ketenteraman keluarga. Islam menganjurkan penyelesaian masalah melalui ketenangan, musyawarah, serta komunikasi yang baik.

Hubungan suami-istri dipandang sebagai amanah yang harus dijaga. Menahan amarah, memilih tutur kata yang santun, serta berusaha memahami kondisi pasangan merupakan bagian dari implementasi akhlak mulia. Dalam konteks ini, menjaga lisan menjadi salah satu fondasi penting terciptanya relasi yang sehat dan saling menghargai. setiap persoalan rumah tangga dapat diselesaikan tanpa harus melukai hati pasangan. Nilai-nilai inilah yang diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi keluarga yang harmonis dan penuh keberkahan.

Sejumlah pemerhati keluarga berharap pesan tentang pentingnya kelembutan ini terus diperkuat dalam masyarakat. Edukasi mengenai relasi rumah tangga yang sehat dinilai krusial untuk mencegah konflik berkepanjangan dan membangun lingkungan keluarga yang aman secara emosional.

Dengan mengedepankan sikap lembut dan akhlak yang baik, persoalan rumah tangga dapat diselesaikan tanpa melukai perasaan pasangan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya keluarga yang harmonis, tenteram, dan penuh keberkahan.

Rekomendasi Berita