Jejak Sejarah dan Keberagaman Islam di Pulau Bali
- 10 Mar 2026 20:37 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Keberadaan komunitas Muslim di Bali menjadi ulasan menarik dalam program Suara Budaya Nusantara edisi Senin, 9 Maret 2026. Dialog lintas udara antara RRI Pro 4 Jakarta dan RRI Pro 4 Denpasar ini menghadirkan narasumber ahli dari Universitas Udayana. Pembahasan tersebut menitikberatkan pada sejarah panjang Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya di Pulau Dewata.
Dosen Antropologi Budaya, Aliffiati, menjelaskan bahwa kehadiran umat Muslim di Bali sudah berlangsung sejak zaman kerajaan kuno. Jalur perdagangan dan hubungan diplomatik antar-kerajaan menjadi pintu masuk utama bagi para pendatang Muslim di masa lampau. “Saudara kita yang Muslim datang ke Bali seiring dengan perkembangan sejarah Pulau Bali sendiri,” jelas Aliffiati dalam wawancara tersebut.
Menurutnya, terdapat istilah "Islam Sejarah" untuk kelompok yang menetap sejak masa kekuasaan Kerajaan Gelgel di masa lalu. Komunitas ini awalnya datang untuk membantu aktivitas kerajaan dan kemudian berakulturasi dengan masyarakat lokal secara harmonis. “Secara umum, Islam yang ada di Bali berasal dari beberapa etnis seperti Jawa, Sasak, Bugis, dan Bajo yang datang melalui jalur sejarah,” tambahnya.
Secara etnis, masyarakat Muslim di Bali memiliki latar belakang yang sangat beragam dan tersebar di berbagai wilayah. Etnis Sasak banyak berkembang di Karangasem, sementara etnis Bugis dan Bajo lebih banyak mendiami wilayah pesisir melalui jalur laut. Keberagaman asal-usul ini memperkaya identitas sosial Bali yang inklusif terhadap berbagai pendatang dari luar pulau.
Interaksi sosial yang telah terjalin berabad-abad ini menciptakan sebuah bentuk pertukaran budaya yang sangat unik di Nusantara. Dialog ini mengajak pendengar untuk memahami bahwa perbedaan latar belakang etnis justru menjadi kekuatan dalam menjaga kerukunan. Proses sejarah yang panjang tersebut membuktikan bahwa Bali adalah rumah yang ramah bagi keberagaman sejak dahulu kala.
Melalui siaran ini, diharapkan masyarakat semakin menghargai narasi sejarah yang membangun persatuan di tengah perbedaan keyakinan. Penjelasan dari sudut pandang antropologi memberikan wawasan baru mengenai akar persaudaraan yang sudah tumbuh sangat dalam. Upaya dokumentasi budaya seperti ini sangat penting untuk merawat identitas bangsa yang majemuk namun tetap bersatu.