KPBMI Gelar Aksi "Blusukan" Sejarah Masyarakat Urban

  • 19 Feb 2026 20:49 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI) menggelar aksi "blusukan" sejarah yang memikat masyarakat urban, di Jakarta.

Kegiatan yang digelar dalam rangka Imlek 2026 ini mengajak peserta melakukan napak tilas peristiwa Geger Pacinan 1740 yang menjadi titik balik sejarah etnis Tionghoa di Jakarta.

"Perjalanan ini bukan sekadar jalan-jalan biasa, melainkan upaya menyelami luka lama dan kejayaan masa lalu di sudut Kota Tua. Kegiatan ini kami rancang khusus untuk memperingati Imlek dengan cara yang lebih mendalam, yakni memahami akar sejarah komunitas Tionghoa di Batavia," ujar Syahrul, Pemandu kegiatan, saat ditemui RRI, di lokasi Taman Fatahillah, Jakarta. Minggu, 15 Februari 2026.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa rute yang dipilih akan melewati lokasi-lokasi krusial yang menjadi saksi bisu tragedi besar pada abad ke-18 tersebut. Syahrul berharap peserta dapat memetik pelajaran berharga tentang toleransi dan keberagaman dari kisah kelam masa lalu.

Pemandu lainnya, Dian Purnomo, menambahkan bahwa titik-titik ikonik seperti Jembatan Kota Intan dan bekas kediaman Kapitan Nie Hoe Kong menjadi sorotan utama dalam tur ini. "Kami ingin menghidupkan kembali memori kolektif tentang sosok Nie Hoe Kong yang merupakan pemimpin komunitas Tionghoa di bawah pemerintahan VOC saat itu," kata Dian menjelaskan materi edukasinya. Menurutnya, rumah sang Kapitan bukan hanya tempat tinggal, melainkan pusat administrasi penting bagi warga Tionghoa sebelum pecahnya konflik besar.

Perjalanan berlanjut menyusuri kawasan Glodok yang tumbuh pesat sebagai pemukiman warga Tionghoa setelah diusir dari dalam tembok kota pasca-tragedi 1740. Peserta diajak melihat bagaimana kawasan ini bertransformasi menjadi pusat perdagangan dan budaya yang bertahan hingga ratusan tahun. Di sini, narasi sejarah tentang ketangguhan komunitas Tionghoa Jakarta diceritakan dengan sangat detail dan interaktif.

Salah satu perhentian paling sakral dalam walking tour ini adalah Kelenteng Toa Se Bio yang merupakan simbol spiritualitas di jantung Glodok. Kelenteng tertua ini dibangun sebagai tempat perlindungan jiwa bagi warga yang selamat dari peristiwa berdarah di masa kolonial. Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dengan arsitektur tradisional yang megah sebagai penjaga tradisi perayaan Imlek.

Selain nilai sejarah, keindahan arsitektur klasik Jembatan Kota Intan yang bergaya Eropa juga menjadi daya tarik bagi para peserta untuk berswafoto. Jembatan angkat yang dibangun sejak abad ke-17 ini tetap menjadi ikon wisata yang memperlihatkan wajah Jakarta sebagai kota pelabuhan dunia. Gabungan antara edukasi sejarah dan wisata visual membuat kegiatan KPBMI ini selalu dinanti oleh para pencinta budaya.

Melalui kegiatan ini, KPBMI sukses membawa napas baru dalam merayakan Imlek dengan mengedepankan aspek edukasi dan pelestarian budaya. Peserta tidak hanya membawa pulang foto-foto indah, tetapi juga pemahaman yang lebih kaya tentang identitas Jakarta yang multikultural. Diharapkan semangat menjaga sejarah ini terus tumbuh di tengah generasi muda agar jati diri bangsa tetap terjaga.

Rekomendasi Berita