KTM, Gelar Kegiatan "Satu Tahun Tentang Malang Bertutur"
- 19 Feb 2026 20:59 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Komunitas Tentang Malang (KTM) menggelar kegiatan bertajuk "Satu Tahun Tentang Malang Bertutur" untuk memeriahkan hari jadinya yang pertama pada tahun ini.
Dikutip dari Press Releasenya pada Kamis, 19 Februari 2026, acara ini akan berlangsung selama dua hari di Gramedia Kayutangan, Kota Malang, dengan fokus utama merawat ingatan sejarah lokal.
Melalui tema "Merawat Ingatan, Menguatkan Keberagaman", penyelenggara ingin mengajak masyarakat melihat kembali memori kolektif dan kultur budaya di Malang Raya. Kegiatan ini menghadirkan perpaduan antara diskusi sejarah, pameran seni, hingga bedah film.
"Visi kami adalah menjadikan Malang sebagai tempat untuk merawat memori sejarah serta keberagaman kultur budaya," ungkap Ahmad Rofi Uddin selaku panitia, mengenai dasar pelaksanaan kegiatan ini.
Pada hari pertama yakni Sabtu mendatang (21/2), akan diisi diskusi membedah perspektif ilmu "rerrajahan atau asma'an" dari masa lalu hingga masa kini.
Narasumber yang hadir di acara itu adalah Dr. Achmad Diny Hidayatullah dari UIN Maliki Malang dan Hendra Sakti Putra selaku pendiri Razor Merchant. Pertemuan ini juga dimeriahkan dengan penampilan seni Macapatan oleh Brian Ardiansyah.
Memasuki hari kedua pada Minggu (22/2), agenda berlanjut dengan bedah film bertema "Antara Layar dan Ingatan".
"Kami ingin membedah sejarah Klenteng Eng An Kiong dan kondisi etnis Tionghoa di Malang pada tahun 1965," jelas Annisa Khansa Labibah, Dosen Departemen Sejarah Universitas Malang.
Lebih lanjut ia juga memberikan pemaparan mengenai latar belakang sejarah komunitas Tionghoa melalui film "Bayang-Bayang di Balik Klenteng". Diskusi ini menjadi ruang dialog penting untuk memahami dinamika lintas etnis di Kota Malang.
Selain pemaparan sejarah, acara ini juga menonjolkan aspek inklusivitas melalui penampilan seni tradisional. Sanggar Tari Tithiek Tenger hadir membawakan tarian yang dibawakan oleh para penari penyandang disabilitas. Kehadiran mereka memperkuat pesan keberagaman yang ingin disampaikan oleh penyelenggara kepada seluruh peserta. Hal ini menunjukkan bahwa narasi sejarah dan budaya dapat dinikmati serta dirayakan oleh semua kalangan masyarakat.
Kegiatan yang terbuka untuk umum ini berlangsung setiap sore mulai pukul 15.30 WIB di lantai 3 Gramedia Kayutangan. Lokasi tersebut dipilih karena nilai historisnya yang kuat di kawasan pusat kota Malang. Seluruh rangkaian acara ini diharapkan dapat memperkaya wawasan masyarakat mengenai pentingnya menjaga warisan budaya di tengah modernisasi. Dengan adanya ruang dialog seperti ini, sejarah tidak lagi dianggap sebagai hal yang kaku, melainkan menjadi pelajaran hidup yang relevan.