Tiramisu Ternyata Punya Sejarah Penuh Drama

  • 27 Jan 2026 22:32 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Tiramisu dikenal sebagai salah satu dessert Italia paling populer di dunia, tetapi sejarah kelahirannya justru penuh perdebatan. Nama tiramisu berasal dari frasa tira mi sù yang artinya kurang lebih “angkat semangatku” jika merujuk pada kandungan espresso dan kakao yang memberi efek menyegarkan.

Britannica mencatat bahwa tiramisu kemungkinan besar memang berasal dari abad ke-20, bukan era Renaisans seperti beberapa legenda populer. Meski ada kisah yang menyebut hidangan ini pernah disajikan di rumah bangsawan Siena atau bahkan rumah hiburan Treviso, bukti tertulis paling kuat muncul pada pertengahan abad lalu.

Secara kuliner, tiramisu mencerminkan filosofi masakan Italia yang sederhana namun kaya rasa. Kombinasi enam bahan utama—savoiardi, mascarpone, telur, gula, kopi, dan kakao—menunjukkan bagaimana teknik sederhana dapat menghasilkan dessert berkelas dunia.

Jurnalis kuliner Alicia Peacock mencatat bahwa tiramisu baru benar-benar populer secara internasional sejak 1980-an, meski diduga lahir antara dekade 1950–1960. Ia menyoroti bagaimana kisah asal-usul tiramisu berkembang dari cerita restoran keluarga, tradisi lokal, hingga legenda yang sulit diverifikasi, menunjukkan kuatnya narasi budaya dalam gastronomi Italia. 

Makna nama tira mi sù yang berarti “pick me up” memperkuat citra tiramisu sebagai makanan penambah semangat. Kandungan espresso, kakao, serta mascarpone menciptakan kombinasi pahit dan manis yang diasosiasikan dengan pemulihan energi fisik maupun emosional. 


Tiramisu kreasi Butterd.id yang disajikan dengan konsep unik dan kekinian, menghadirkan pengalaman menikmati dessert klasik dengan cara berbeda. (Foto: Koleksi Butterd.id)

Popularitas global tiramisu kemudian menginspirasi adaptasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Jakarta, Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM Butterd.id menghadirkan inovasi bernama Butter Tiramisu Sodok, yakni tiramisu yang disajikan langsung disodok dari loyang panjang, dengan tema “Terjangkau dan Mudah Diakses”. Gabriela Ongki mengatakan, “Kita jualan tiramisu tapi pakai loyang panjang sekitar 30 cm, dan setiap kali ada yang beli, kita sodok pakai spatula,” ujar dia dalam program siaran radio 92,8 FM Pro4 RRI Jakarta.

Usaha yang dirintis Ayesha Vatanan, Gabriela Ongki, dan Rerry Medita ini lahir dari obrolan santai sekitar enam hingga tujuh bulan lalu. "Awalnya kita ngumpul bareng, terus kepikiran kenapa nggak buka bisnis bareng. Konsep tiramisu sodok itu lagi viral di luar negeri dan di Indonesia belum terlalu ramai waktu itu," kata Ayesha menjelaskan latar belakang ide bisnis mereka.

Pada hari kedua penjualan, Butterd.id langsung viral di TikTok dan mendapat respons pasar yang sangat positif. Meski dijalankan oleh tiga orang dengan latar belakang berbeda—mahasiswa, freelancer, dan pekerja kreatif—Butterd.id mampu bertahan karena pembagian peran yang saling melengkapi. 

Menurut Ayesha, pembagian peran di antara para pendiri menjadi fondasi keberlangsungan usaha. “Pasti ada clash, tapi kita saling melengkapi. Ada yang kuat di ide, ada yang eksekusi,” kata dia, menggambarkan kerjasama sebagai kekuatan utama mereka.

Rekomendasi Berita