Lawan Brainrot dengan Puasa
- 09 Mar 2026 22:07 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember: Di tengah derasnya arus konten digital, istilah brainrot kini semakin sering terdengar, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan media sosial. Fenomena ini menggambarkan kondisi ketika pikiran terasa tumpul akibat paparan konten singkat, repetitif, dan cenderung absurd yang dikonsumsi terus-menerus melalui platform seperti TikTok atau Instagram Reels.
Tanpa disadari, kebiasaan scrolling tanpa henti membuat seseorang sulit fokus pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih dalam, seperti membaca, belajar, atau menyimak informasi serius. Potongan audio viral yang terus terngiang, perhatian yang mudah terpecah, hingga kelelahan mental menjadi gejala yang kerap muncul.
Di balik fenomena yang tampak sepele ini, ternyata ada penjelasan ilmiah yang menarik. Dosen Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember Dr. Wahyudi Widada, menjelaskan bahwa kondisi brainrot berkaitan dengan penurunan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) dalam tubuh.
BDNF merupakan protein penting yang berfungsi menjaga kesehatan sel saraf di otak. Senyawa ini berperan dalam pertumbuhan, kelangsungan hidup, serta kemampuan sel saraf untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru.
“BDNF sangat vital dalam menjaga plastisitas dan fungsi neuron,” jelas Wahyudi, Senin 9 Maret 2025.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kadar BDNF yang rendah sering ditemukan pada berbagai gangguan neurologis dan psikologis, seperti depresi, skizofrenia, hingga penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Bahkan pada pasien stroke, rendahnya kadar BDNF juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko depresi pasca stroke serta penyusutan volume hipotalamus, bagian otak yang berperan penting dalam memori dan pengaturan emosi.
Ketika dukungan neurotrofik dari BDNF menurun, struktur otak juga dapat mengalami perubahan. Dalam beberapa kasus depresi mayor, volume hipotalamus dilaporkan menyusut hingga 5–10 persen. Namun di tengah kekhawatiran tersebut, ada kabar baik yang cukup mengejutkan. Penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa puasa dan pola makan intermittent fasting dapat membantu meningkatkan kadar BDNF di otak.
Proses ini terjadi ketika tubuh memasuki fase ketosis, yakni kondisi saat tubuh mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi setelah sekitar 12–16 jam tanpa asupan kalori. Pada fase ini, tubuh memproduksi senyawa B-hydroxybutyrate (BHB) yang tidak hanya menjadi bahan bakar alternatif bagi otak, tetapi juga berfungsi sebagai molekul sinyal yang merangsang produksi BDNF.
Peningkatan kadar BDNF inilah yang kemudian memberikan efek neuroprotektif, yaitu perlindungan terhadap sel-sel otak agar tetap sehat dan mampu berfungsi optimal.
Dengan kata lain, puasa tidak hanya memiliki dimensi spiritual dan kesehatan metabolik, tetapi juga dapat menjadi strategi biologis untuk menjaga kesehatan otak di era digital yang penuh distraksi.
“Peningkatan BDNF membantu menjaga plastisitas neuron, memperbaiki fungsi jaringan saraf, serta berpotensi melindungi otak dari dampak brainrot akibat paparan konten digital berlebihan,” pungkas Wahyudi.
Di tengah budaya digital yang semakin cepat dan serba instan, puasa mungkin menjadi salah satu cara sederhana untuk memberi jeda—bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi otak agar kembali bekerja secara lebih jernih dan fokus.