Atur Volume Latihan dan Kebutuhan Cairan saat Puasa

  • 13 Mar 2026 10:50 WIB
  •  Jember

RRI.co.id, Jember — Menjaga rutinitas olahraga selama bulan Ramadhan tetap memungkinkan dilakukan, namun memerlukan penyesuaian pada volume latihan serta pengaturan kebutuhan cairan. Pendekatan yang tepat membantu tubuh mempertahankan kebugaran tanpa meningkatkan risiko kelelahan atau dehidrasi selama menjalankan ibadah puasa. Volume latihan merujuk pada total beban aktivitas fisik yang dilakukan dalam satu sesi atau periode tertentu, termasuk durasi, intensitas, dan frekuensi latihan. Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan energi dan cairan dalam waktu yang cukup panjang sehingga kemampuan fisik dapat mengalami penurunan sementara. Oleh karena itu, pengurangan volume latihan menjadi strategi yang dianjurkan untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan kondisi tubuh.

Latihan dengan intensitas ringan hingga sedang umumnya lebih disarankan selama periode puasa. Aktivitas seperti jogging ringan, bersepeda santai, atau latihan kekuatan dengan beban moderat dapat membantu mempertahankan kebugaran tanpa memberikan tekanan berlebihan pada sistem kardiovaskular. Penyesuaian intensitas ini juga membantu mengurangi risiko kelelahan yang dapat memengaruhi aktivitas harian. Waktu pelaksanaan olahraga turut berperan penting dalam menjaga stabilitas tubuh. Banyak praktisi kebugaran menyarankan latihan dilakukan menjelang waktu berbuka atau beberapa saat setelah berbuka puasa. Pendekatan ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk segera menggantikan cairan dan energi yang hilang setelah latihan.

Kebutuhan cairan menjadi perhatian utama selama bulan Ramadhan. Tubuh kehilangan cairan melalui keringat dan proses metabolisme, terutama saat berolahraga. Tanpa pengaturan cairan yang tepat, kondisi dehidrasi dapat memengaruhi fungsi tubuh seperti konsentrasi, daya tahan, serta kinerja otot. Pemenuhan cairan dapat dilakukan secara bertahap antara waktu berbuka hingga sahur. Pola konsumsi air yang teratur membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh sebelum memulai aktivitas puasa di hari berikutnya. Selain air putih, makanan yang mengandung kadar air tinggi seperti buah dan sayur juga dapat membantu menjaga hidrasi tubuh.

Selain cairan, keseimbangan elektrolit juga berperan dalam menjaga fungsi otot dan sistem saraf. Asupan makanan bergizi saat sahur dan berbuka membantu tubuh menggantikan mineral yang hilang selama aktivitas fisik. Pengaturan nutrisi yang tepat mendukung proses pemulihan setelah latihan. Pemantauan kondisi tubuh menjadi langkah penting saat berolahraga di bulan puasa. Tanda-tanda seperti pusing, lemas berlebihan, atau detak jantung yang tidak stabil perlu diperhatikan sebagai sinyal tubuh untuk mengurangi intensitas latihan. Pendekatan yang bijak dalam mengatur volume latihan dan hidrasi membantu menjaga kesehatan sekaligus mempertahankan kebugaran selama Ramadhan.

Rekomendasi Berita