Padi Biosalin, Solusi Pangan Warga Pesisir

  • 30 Jun 2025 20:22 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Indonesia kaya akan hasil lautnya, banyak masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari melaut. Namun, di sisi lain banyak juga masyarakat yang juga berprofesi sebagai petani. Harapannya bisa menikmati hasil bumi dan hasil laut bersamaan. Pada sektor pertanian, masyarakat pesisir banyak yang menanam padi.

Pada lahan sawah yang dekat garis pantai sangat berpotensi tercemar oleh intrusi air laut yang menyebabkan tingginya kadar garam pada lahan hingga mencapai batas toleransi padi. Hal ini menjadi salah satu ketakutan masyarakat pesisir. Tingginya kadar garam (salinitas) pada lahan sawah dapat menghambat pertumbuhan batang, luas daun, dan akar dan berdampak berdampak pada turunnya produksi padi.

Padi Biosalin saat ini masih menjadi solusi yang bisa digunakan masyarakt dipinggiran pantai untuk mempertahankan lahan atau sawah mereka dengan hasil yang bagus. Mengutip laman resmi Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Senin (30/06/2025), Padi Biosalin merupakan varietas unggul yang toleran terhadap salinitas. Varietas dengan nama Biosalin 1 Agritan dan Biosalin 2 Agritan ini dirilis oleh Kementerian Pertanian berdasarkan Surat Keputusan Nomor 894 dan Nomor 895 Tahun 2020.

Varietas Padi Biosalin juga sedikit tahan terhadap hama wereng batang cokelat, penyakit hawar daun bakteri, dan hama blas. Sementara potensi hasilnya mencapai 8,75 ton/hektar untuk biosalin 1 dan 9,06 ton/hektar untuk biosalin 2. Program pengembangan Padi Biosalin merupakan hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan pemerintah kota dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk.

Dengan potensi lahan pesisir Indonesia yang luas dari Sabang sampai Merauke, Padi Biosalin berpeluang menjadi alternatif ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas pertanian di daerah yang sebelumnya kurang optimal untuk bercocok tanam.

Rekomendasi Berita