Makna Filosofis Dibalik Simbol-Simbol Imlek

  • 15 Feb 2026 09:50 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Tahun Baru Imlek bukan hanya sekadar perayaan pergantian tahun dalam kalender Tionghoa. Di balik warna, dekorasi, dan tradisi yang meriah, tada makna budaya dan filosofi yang kaya akan nilai sosial, spiritual, serta harapan untuk masa depan. Perayaan ini bukan sekadar ritual, tetapi cara masyarakat keturunan Tionghoa memaknai kehidupan, kebersamaan keluarga, dan permohonan keberuntungan di tahun yang baru.

1. Angpao: Simbol Harapan dan Doa untuk Keberuntungan

Tradisi memberi angpao atau amplop berwarna merah berisi uang adalah salah satu simbol paling populer saat Imlek. Warna merah dipilih karena dalam budaya Tionghoa merah melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan perlindungan dari energi negatif. Memberi angpao kepada anak-anak dan keluarga muda bukan hanya soal memberi uang, tetapi juga ungkapan doa agar mereka dilimpahi rezeki dan keselamatan di tahun yang baru.

2. Lampion Merah: Cahaya yang Mengusir Energi Buruk

Lampion merah yang bergelantungan di rumah dan jalanan saat Imlek tidak sekadar menghias. Lampion identik dengan cahaya dan semangat yang mengusir kegelapan, baik secara fisik maupun simbolis. Warna merah dan cahaya lampion diyakini mampu melindungi keluarga dari nasib buruk sekaligus membawa kegembiraan dan kedamaian di tahun mendatang.

3. Barongsai: Pertunjukan yang Penuh Filosofi

Atraksi barongsai bukan hanya tontonan; setiap gerakan, warna, dan irama musiknya punya makna. Barongsai dipercaya dapat mengusir roh jahat dan energi negatif, serta menjadi simbol kekuatan dan keberanian. Penelitian yang diterbitkan di Jurnal Kajian Seni Universitas Gadjah Mada membahas Barongsai sebagai bagian dari ritual Cap Go Meh dan bagaimana tarian ini memiliki makna simbolik dalam tradisi budaya Tionghoa di Makassar, termasuk perannya dalam refleksi identitas dan simbolisme pertunjukan.

4. Fai Chun dan Kata Berkah: Ungkapan Doa yang Dipajang

Selain lampion dan dekorasi lainnya, banyak keluarga memasang fai chun yaitu hiasan kaligrafi dengan kata-kata positif seperti “福” (Fu: keberuntungan) dan “吉祥” (Jixiang: kebaikan). Tulisan-tulisan ini bukan sekadar ornament tetapi mereka adalah doa yang dipajang sebagai harapan agar tahun baru dipenuhi berkah dan harmoni.

5. Makanan atau Hidangan: Simbol Kekayaan dan Kelimpahan

Hidangan pada Imlek pun sarat makna. Sebagai contoh, ikan bukan hanya makanan,dalam budaya Tionghoa, kata untuk ikan dalam Mandarin (yu) mirip dengan kata kelimpahan, sehingga ikan menjadi simbol rezeki “lebih dari cukup” di tahun yang baru. Ritual makan bersama keluarga menjadi doa dan harapan akan keadaan yang lebih baik dan penuh berkah.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ekonomi Kreatif juga telah menjadikan Imlek sebagai bagian dari kalender inklusif budaya nasional. Logo resmi Imlek Nasional 2026 mengangkat tema “Harmoni Imlek Nusantara”, menggambarkan bagaimana Imlek dirayakan dengan semangat persatuan dalam keberagaman bangsa. Logo yang dipilih dengan perpaduan simbol lokal dan filosofi Tionghoa, menjadi bukti bahwa tradisi ini tidak hanya dimaknai secara etnis, namun juga sebagai bagian dari budaya besar Indonesia.

Dengan memahami filosofi di balik simbol-simbol ini, perayaan Imlek menjadi lebih dari sekadar tradisi, tetapi juga refleksi nilai kehidupan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Rekomendasi Berita