Budaya Lokal dalam Strategi Pengarus Utamaan Gender
- 19 Feb 2026 07:41 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Upaya pengarusutamaan gender di Sulawesi Tenggara kembali hadir dalam program dialog “Tonga Oleo” yang digelar pada Selasa 10 Pebruari 2026 di Studio Pro 4 RRI Kendari. Dialog ini menghadirkan narasumber Dr. Hijriani, SH, MH (Dosen Pascasarjana sekaligus Kepala LPPM Unsultra) dan Rahmawati Azi, S.Pd, MA (Koordinator Presidium Forhati Sultra), dengan pewawancara Yuliana Linda.
Dalam dialog yang berlangsung tersebut, kedua narasumber menekankan pentingnya menjadikan budaya lokal sebagai fondasi dalam strategi pengarusutamaan gender (PUG). Menurut Dr. Hijriani, pendekatan berbasis budaya akan lebih efektif karena masyarakat Sulawesi Tenggara memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang menjunjung tinggi keseimbangan, penghormatan, dan peran kolektif dalam kehidupan sosial.
“Budaya lokal bukanlah penghambat kesetaraan gender. Justru di dalamnya terdapat nilai-nilai yang dapat memperkuat peran perempuan dan laki-laki secara adil dalam pembangunan,” ujar Dr. Hijriani.
Ia menjelaskan bahwa strategi pengarusutamaan gender harus diintegrasikan dalam kebijakan, penelitian, serta program pengabdian kepada masyarakat. Sebagai Kepala LPPM Unsultra, ia menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam mendorong riset dan pemberdayaan masyarakat yang responsif gender.
Sementara itu, Rahmawati Azi menyoroti pentingnya peran organisasi perempuan dalam mengawal implementasi PUG di daerah. Menurutnya, pengarusutamaan gender bukan sekadar wacana, melainkan harus tercermin dalam perencanaan pembangunan, penganggaran, hingga evaluasi program pemerintah daerah.
“Budaya lokal seperti semangat kebersamaan dan musyawarah dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat kesadaran akan kesetaraan peran perempuan dan laki-laki,” jelas Rahmawati.
Ia juga menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan media untuk membangun narasi yang konstruktif tentang kesetaraan gender tanpa menghilangkan identitas budaya daerah.
Pewawancara Yuliana Linda dalam kesempatan tersebut menggali berbagai tantangan yang dihadapi dalam penerapan strategi pengarusutamaan gender, termasuk persepsi masyarakat dan keterbatasan literasi gender. Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi pendengar yang memberikan tanggapan melalui sambungan telepon.
Dialog “Tonga Oleo” di Studio Pro 4 RRI Kendari ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa budaya lokal dan kesetaraan gender dapat berjalan beriringan dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berkeadilan di Sulawesi Tenggara.