Karya Seni Patung Raksasa Ogoh-Ogoh di Desa Jati Bali

  • 20 Feb 2026 12:32 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di Desa Jati Bali kabupaten Konawe Selatan, mulai riuh dengan aktivitas seni yang tak biasa. Disudut-sudut pelataran Pura, terlihat kerangka besi dan bambu mulai menjulang tinggi, dibalut kertas-kertas bekas yang perlahan membentuk sosok raksasa.

Inilah proses pembuatan Ogoh-ogoh, sebuah tradisi yang bukan sekadar seni visual, melainkan simbol pembersihan diri bagi masyarakat Hindu.

Rai Karno Sasmita, salah satu pemuda setempat yang terlibat langsung dalam proses pembuatan patung Ogoh-Ogoh, ia menjelaskan bahwa pembuatan patung raksasa ini merupakan hasil kerja keras pemuda desa Jati Bali.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan ogoh-ogoh bervariasi, tetapi bambu tetap menjadi material utama untuk kerangka. Kerangka juga kini sudah mulai beralih menggunakan besi sehingga lebih kuat dipakai saat pawai.

Selain itu, bahan lainnya biasanya memakai kertas daur ulang, dan cat digunakan untuk membentuk detail dan memberikan warna pada patung.

“Kalau untuk umumnya, bahan dasarnya itu menggunakan bahan-bahan daur ulang seperti kertas, bambu dan besi untuk rangkanya, kayu juga dan cat,” jelas Rai Karno.

Membuat patung setinggi 3 hingga 5 meter tentu bukan hal mudah. Menurut Rai Karno, dibutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan untuk menyelesaikan satu patung Ogoh-ogoh, mulai dari perancangan rangka hingga tahap akhir (finishing).

Tak hanya waktu, biaya yang dihabiskan pun tidak sedikit. Untuk menghasilkan karya yang megah, anggaran yang dibutuhkan bisa mencapai jutaan rupiah. Namun, semangat gotong royong warga Desa Jati Bali memastikan tradisi ini tetap berjalan setiap tahunnya.

“Untuk biaya juga bervariatif, tergantung bentuk dan besar ogoh-ogohnya. Semakin besar ogoh-ogohnya semakin besar juga biayanya. Tapi untuk disini biasanya paling-paling 5 sampai 15 juta. Dananya dari sumbangan masyarakat disini”

Banyak orang awam bertanya-tanya mengapa Ogoh-ogoh identik dengan wajah dan bentuk yang menyeramkan. Rai Karno menjelaskan bahwa bentuk tersebut merupakan representasi dari Bhuta Kala atau kekuatan alam yang cenderung negatif. Namun, ia menekankan bahwa estetika Ogoh-ogoh sebenarnya sangat luas.

“Makna dari ogoh-ogoh itukan untuk penetralisir roh jahat, kekuatan jahat. Jadi di buatnya seram untuk menarik Butha Kala. Tapi tidak selalu seram juga, ada juga yang berbentuk dewa-dewi, dari cerita rakyat atau cerita Mahabharata,” tambah Rai Karno.

Di Desa Jati Bali sendiri, terdapat empat Pura yang masing-masing memproduksi Ogoh-ogoh. Karya-karya ini tidak dibuat untuk diperjualbelikan, melainkan murni untuk ritual pawai di hari Pengerupukan atau ritual sakral sebagai bentuk pembersihan dan pengusiran energi negative.

Oleh karena itu, masyarakat membuat bunyi-bunyian keras, membakar obor, dan mengarak ogoh-ogoh sebagai simbol bhuta kala yang harus disingkirkan. tepat sehari sebelum Nyepi. Setelah diarak keliling desa dan didoakan oleh para pemangku, patung-patung ini biasanya akan dibakar.

“Untuk biasanya dia dibakar di tempat pembakaran, di tujuan terakhirnya Ogoh-Ogoh Pawai. Tapi ada yang disimpan juga, bisa di kemudian hari di tahun depannya bisa diperjual belikan juga,” imbuhnya.

Ritual dan Prosesi Pengerupukan diawali dengan upacara Tawur Kesanga di siang hari, dimana umat Hindu melakukan persembahan atau ‘caru’ berupa sesajen yang ditujukan kepada butha kala.

Melalui tangan-tangan kreatif para pemuda Desa Jati Bali, Ogoh-ogoh bukan sekadar tontonan, melainkan manifestasi dari semangat menjaga tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (Aisyah Zaharani-IAIN Kendari)

Rekomendasi Berita