Kasus Campak di Indonesia Meningkat, IDAI Serukan Kejar Imunisasi

  • 11 Mar 2026 23:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Kota Bekasi- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti adanya peningkatan kasus campak di Indonesia. Oleh karena itu mereka menyerukan agar beberapa langkah luar biasa diambil oleh para pemangku kepentingan.

IDAI menyebut tahun 2025 ada 63.769 kasus suspek campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian. Sedangkan Hingga minggu ke-7 tahun 2026, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian.

Berdasarkan data WHO yang dirilis CDC per Februari 2026 Indonesia menempati urutan kedua kasus campak tertinggi di dunia dengan 10.747 kasus. Menempatkan Indonesia ada di bawah Yaman dan di atas India.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan dengan kondisi darurat tersebut perlu langkah luar biasa para pemangku kepentingan. Sebagai upaya memproteksi anak-anak Indonesia dari penyakit campak.

“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi," katanya, melalui keterangan persnya yang diterima wartawan, Rabu, 11 Maret 2026.

Menyikapi kondisi tersebut, IDAI lantas merekomendasikan enam langkah strategis. Yakni dengan menekankan tiga titik fokus untuk mengatasi masalah campak.

Pertama, kejar imunisasi campak rubella. Terutama anak berusia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun yang belum imunisasi.

Kedua, tingkatkan surveilans penyakit campak dan rubella. Sebab cakupan imunisasi campak rubella dosis kedua (MR2) saat ini hanya mencapai 82,3 persen pada tahun 2024.

Ia menyebut, angka cakupan imunisasi campak rubella dosis kedua jauh dibawah target nasional 95 persen. Sehingga kekebalan kelompok (herd immunity) belum terbentuk optimal.

"Langkah ketiga yang perlu dilakukan yaitu memperkuat kapasitas laboratorium diagnostik campak dan rubella. Ini penting untuk mendukung kegiatan surveilans dan penegakan diagnosis," katanya.

Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi, menjelaskan pentingnya upaya mengejar ketertinggalan imunisasi pasca pandemi. Sebab pandemi COVID-19 telah menyebabkan disruptif layanan imunisasi rutin yang sangat signifikan.

Ia mengatakan, banyak anak yang melewatkan jadwal imunisasinya. Dan ini menciptakan kantong-kantong kerentanan di berbagai daerah.

Dijelaskan olehnya, perlu dipahami juga bahwa imunisasi campak rubella aman dan efektif. Isu-isu tentang keamanan vaksin yang beredar di masyarakat tidak berdasar secara ilmiah.

Bahkan kata dia, Vaksin MR yang digunakan di Indonesia telah melalui proses evaluasi ketat. Serta mendapatkan izin edar dari BPOM.

Pihaknya mengajak masyarakat untuk tidak ragu membawa anaknya imunisasi. Serta melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan terpercaya jika ada pertanyaan dan keraguan.

"IDAI menyerukan kepada seluruh orangtua, tenaga kesehatan, dan pemerintah untuk bergerak bersama dalam upaya kejar imunisasi. Tidak ada alasan untuk menunda lagi karena campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, bahkan kematian," ujarnya.

Rekomendasi Berita