Tonis, Sastra Lisan Sakral Penjaga Filosofi Budaya Timor

  • 21 Feb 2026 05:00 WIB
  •  Kupang

RRI. CO. ID, Kupang – Budaya Timor tidak hanya kaya akan wastra dan tarian, tetapi juga menyimpan kedalaman filosofi melalui sastra lisan yang dikenal dengan sebutan Tonis. Dalam Obrolan Budaya RRI Pro 4 Kupang, Rabu 4 Februari 2026, pemerhati budaya Timor, Drs. Semuel A. Hauteas, M.Si, mengatakan, Tonis pada dasarnya adalah tuturan lisan yang disampaikan secara sistematis sesuai dengan tema atau hajatan tertentu.

Ia menekankan adanya perbedaan istilah yang sering kali dianggap sama oleh masyarakat umum. "Tonis itu adalah tuturannya atau pokok apa yang mau disampaikan. Orangnya disebut Atonis, sedangkan aktivitas melakukan tuturan itu disebut Natoni," jelasnya.

Lebih lanjut, Semuel memaparkan bahwa Tonis bukan sekadar bicara, melainkan tuturan yang tersusun rapi dari atas ke bawah, mencakup sejarah, silsilah, hingga maksud hati dalam berbagai peristiwa kehidupan, seperti peminangan, kelahiran, kematian, hingga penyambutan tamu kehormatan. Sementara itu, Budayawan Timor, Thimothius Kabu, menambahkan bahwa Tonis dibedakan dari bahasa sehari-hari karena menggunakan kalimat-kalimat puitis yang penuh kiasan.

Bagi suku Atoni Pah Meto, mendengarkan Tonis adalah bentuk hiburan sekaligus penghormatan yang tinggi. "Tonis menggunakan bahasa Uab Meto kuno (arkais) yang puitis. Penuturnya atau Atonis haruslah sosok yang karismatik dan memiliki pemahaman mendalam tentang konteks yang dibicarakan," ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa kemampuan bertonis sering kali merupakan bakat turun-temurun. Meskipun bisa dipelajari, ada unsur karisma yang membuat seorang Atonis mampu menggetarkan hati pendengarnya melalui rima dan irama tuturan yang terjaga.

Salah satu poin paling sakral dalam budaya Tonis adalah konsep Fanu. Thimothius menjelaskan bahwa Fanu adalah keyakinan akan kebenaran hakiki dari setiap kata yang diucapkan dalam Tonis.

Melanggar atau mengubah kebenaran dalam tuturan tersebut dipercaya dapat membawa dampak negatif bagi pelakunya. Dalam aspek religi, Tonis menjadi media komunikasi kepada Uis Neno (Tuhan Yang Maha Tinggi) dan bentuk penghormatan kepada Uis Pah (alam sebagai pemangku kehidupan).

"Penyembahan tetap satu kepada Tuhan, namun melalui Tonis, kita mengundang arwah leluhur dan alam untuk bersaksi atas hajatan yang dilakukan," tambah Semuel.

Ia juga menyoroti hilangnya penggunaan bahasa daerah akibat pengaruh pendidikan formal dan modernisasi yang cenderung meninggalkan simbol-simbol adat. "Rumah adat banyak yang hancur, padahal di sanalah pusat sejarah dan tuturan itu bermuara. Jika simbolnya hilang, bahasanya pun perlahan ikut lenyap," katanya.

Sebagai langkah penyelamatan, Thimothius mendorong pemerintah untuk lebih serius menerapkan kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sementara itu, Semuel A. Hauteas menegaskan perlunya keberpihakan anggaran dari negara untuk menghidupkan kembali sanggar-sanggar budaya dan membangun kembali rumah adat sebagai pusat edukasi.

"Kita tidak hanya butuh gelar akademik, kita butuh orang-orang yang paham adat sebagai narasumber di sekolah-sekolah. Kekayaan budaya ini adalah harta bangsa yang membuat Indonesia berbeda dengan bangsa lain," pungkas Semuel. (JR)

Rekomendasi Berita