Dari Garis Arsitektur ke Garis Bedeng: Kisah Inspiratif "Kebun Lapang Merah"
- 21 Feb 2026 13:20 WIB
- Kupang
RRI.CO.Id, Kupang - Markus Jovito Eliamanafe, atau yang akrab disapa Vito, membuktikan bahwa gelar sarjana arsitektur bukan penghalang untuk terjun langsung ke tanah berlumpur sebagai petani milenial. Sosok di balik akun konten "Kebun Lapang Merah" ini baru-baru ini berbagi kisah transformatifnya pada Kamis, 19 Februari 2026 di studio RRI Pro 2 Kupang, mengenai keputusannya pulang ke Rote Barat Laut untuk mengolah lahan keluarga.
"Beta benar-benar merasakan hidup di kampung dan sempat sulit membayangkan cita-cita karena kurangnya wawasan, hingga akhirnya memilih arsitektur karena hobi menggambar," ungkap Vito mengenang masa kuliahnya di Undana. Namun, panggilan alam dan keinginan membantu orang tua di tahun 2025 membawanya kembali ke akar, di mana ia menerapkan ketelitian seorang arsitek ke dalam tata kelola kebun yang rapi dan produktif.
Vito mengubah lahan yang dulunya merupakan lapangan bola berbatu menjadi area pertanian subur yang kini dikenal dengan nama Kebun Lapang Merah. Nama unik ini diambil dari sejarah lahan tersebut yang merupakan lapangan luas dengan karakteristik tanah merah berkapur yang menantang untuk diolah.
Di atas tanah merah berkapur yang memiliki tantangan pH tinggi, ia belajar memahami nutrisi, hama, hingga teknik pemangkasan dan pengikatan tanaman. “Bertani itu bukan untuk orang malas, kita harus serius pelajari penyakit tanaman, pemupukan, dan rawat tiap pohon dengan detail baru bisa dapat hasil maksimal,” tegasnya.
Tak hanya fokus pada produksi, Vito juga cerdas membaca pasar dengan memasok hasil panennya ke hotel dan ritel modern seperti Hypermart di Kupang dan restoran hingga hotal elit di kawasan Nembrala, Rote.. Vito bahkan memanfaatkan kendaraan logistik kosong dari Rote ke Kupang untuk mengirim melon dalam jumlah besar agar tidak rugi saat panen melimpah.
Baginya, bertani bukan sekadar menanam, melainkan sebuah seni yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang nutrisi tanaman, pengendalian hama, hingga manajemen pemasaran yang cerdas.
Melalui konten-konten yang dibumbui cerita kampung dan humor khas Rote, Kebun Lapang Merah menjadi ruang edukasi sekaligus inspirasi bagi anak muda agar tak malu kembali ke desa dan berkarya dari tanah sendiri. Kisah Vito membuktikan bahwa menjadi petani milenial bukan sekadar tren, melainkan pilihan sadar untuk membangun ketahanan pangan dengan kreativitas dan ketekunan.
Ia ingin menunjukkan bahwa sektor pertanian adalah ladang kreativitas yang menjanjikan jika dikelola dengan hati yang senang dan dedikasi penuh. "Bertani itu memang sangat sulit dan butuh keseriusan, itu bukan untuk orang-orang yang malas bergerak," tegas Vito. (AK)