Akar-Akar di Desa: Cara Aleta Puling Merawat Tradisi lewat Tanaman Herbal dan Pangan
- 21 Feb 2026 14:40 WIB
- Kupang
RRI.CO.Id, Kupang - Di tengah gempuran tren instan dan gaya hidup serba cepat, Aleta Puling justru memilih kembali ke tanah dan akar. Lewat konten edukatifnya, “Akar-Akar di Desa”, Aleta Puling membuktikan bahwa kebun rumah bisa menjadi ruang belajar, ruang cinta, sekaligus ruang perubahan.
Dalam wawancara bersama RRI Pro2 Kupang pada Jumat, 20 Februari 2026, lulusan psikologi ini membangun branding melalui akun “Akar-Akar di Desa”, sebuah platform yang ia ciptakan sebagai media belajar tentang tanaman herbal dan pangan lokal. “Akar-akar di desa itu sebenarnya tempat saya belajar, karena dengan membuat video saya mengulang materi yang saya pelajari tentang tanaman,” ujar Aleta yang merupakan tamatan Psikologi Undana.
Nama itu bukan sekadar estetika, tetapi simbol makna yang dalam tentang pentingnya akar bagi kehidupan. Terinspirasi dari akar cendana yang mulai hilang di tanah Alor, Aleta ingin mengingatkan bahwa tanaman lokal memiliki nilai kesehatan dan identitas yang tak boleh tercabut.
Aleta menekankan bahwa berkebun bukan sekadar aktivitas pertanian, melainkan wujud rasa cinta kepada keluarga melalui penyediaan nutrisi sehat tanpa bahan kimia. Di kebunnya, ia menanam tanaman fungsional seperti kelor, bunga telang, hingga pangan lokal seperti pisang tanah yang semuanya dikelola dengan prinsip ekosistem yang seimbang.
"Kebun itu sebagai tempat belajar dan juga tempat merefleksi kehidupan; belajar bagaimana kita diam-diam tapi terus tumbuh seperti tanaman," ungkap Aleta.
Pemanfaatan tanaman herbal menurutnya harus menjadi bagian dari gaya hidup preventif, bukan sekadar obat saat tubuh sudah jatuh sakit. Ia kerap membagikan tips mengolah bahan dapur seperti kunyit dan jahe dengan takaran yang tepat agar memberikan manfaat optimal bagi kesehatan tubuh dan kulit.
Fokusnya kini sederhana namun berdampak: menjadikan kebun sebagai penyedia nutrisi keluarga dan ruang refleksi hidup. “Kebun itu bukan cuma soal tanam dan panen, tapi tentang bagaimana kita menciptakan ekosistem dan belajar tidak serakah, berbagi dengan hewan dan alam,” katanya.
Di kebunnya tumbuh kelor, bunga telang, mimba, hingga pisang dan talas yang menjadi sumber karbohidrat alami. Ia bahkan mengolah batang pisang yang kerap dianggap limbah menjadi menu sehat, membuktikan bahwa pangan lokal bisa kreatif, hemat, dan tetap lezat.
Bagi Aleta, kembali ke herbal bukan berarti anti modern, melainkan soal tanggung jawab atas pilihan hidup. “Relate atau tidak itu kembali ke pilihan masing-masing, yang penting kita bertanggung jawab dengan konsekuensi dari apa yang kita konsumsi,” tegasnya.
Gerakan kecil dari pekarangan rumah ini menjadi pesan besar bagi anak muda: bahwa ketahanan pangan, kesehatan kulit, hingga peluang ekonomi bisa dimulai dari tanah sendiri. Dari akar-akar di desa, tumbuh harapan bahwa generasi muda tak lagi asing dengan tanahnya, melainkan bangga merawatnya.
Melalui konten kreatifnya, Aleta membuktikan bahwa pangan lokal seperti batang pisang yang sering dianggap pakan ternak ternyata bisa diolah menjadi hidangan lezat dan bergizi. Ia mengajak anak muda untuk tidak ragu kotor di kebun karena kemandirian pangan bisa dimulai dari langkah kecil di pekarangan rumah sendiri.
"Jadikan makanan sebagai obatmu daripada obat menjadi makananmu," pesan Aleta mengutip nasihat yang ia pegang teguh. (AK)