YouTube Perluas Teknologi Deteksi Deepfake untuk Lindungi Tokoh Publik
- 11 Mar 2026 04:33 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - YouTube meningkatkan upaya memerangi penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI), khususnya video deepfake yang meniru wajah dan identitas orang sungguhan. Platform berbagi video tersebut mengumumkan perluasan teknologi deteksi kemiripan wajah kepada kelompok percontohan yang terdiri dari jurnalis, pejabat pemerintah, dan kandidat politik.
Langkah ini bertujuan untuk melindungi tokoh publik dari peniruan yang dihasilkan oleh AI dan bekerja mirip dengan Content ID untuk wajah. Peserta mengirimkan video pendek dan kartu identitas pemerintah agar sistem dapat mempelajari kemiripan mereka, dan setelah terdaftar, YouTube memindai unggahan untuk video yang dihasilkan AI yang meniru penampilan mereka. Jika konten tersebut muncul, individu tersebut dapat meninjaunya dan berpotensi meminta penghapusannya.
YouTube pertama kali memperkenalkan deteksi kemiripan untuk kreator di Program Mitra YouTube tahun 2025 lalu. Perusahaan kini meyakini prioritas selanjutnya adalah melindungi tokoh publik yang identitasnya sering digunakan dalam kampanye disinformasi, terutama seputar pemilihan umum dan wacana politik.
Deepfake menjadi semakin realistis berkat alat AI generatif, sehingga memudahkan pembuatan video yang meyakinkan tentang orang yang mengatakan atau melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan. Dalam politik dan jurnalisme, risiko tersebut dapat memiliki konsekuensi serius, mulai dari disinformasi hingga kerusakan reputasi.
Namun, sistemnya bukanlah sekadar "tombol hapus". YouTube mengatakan permintaan penghapusan masih akan tunduk pada pedoman privasi dan moderasi yang ada, yang berarti beberapa video mungkin tetap online jika memenuhi syarat sebagai parodi, satire, atau komentar yang sah.
Menariknya, YouTube mengatakan peluncuran awal kepada para kreator tidak menyebabkan banyak penghapusan konten. Sebagian besar konten yang terdeteksi ternyata relatif tidak berbahaya, meskipun perusahaan memperkirakan situasinya akan berbeda untuk tokoh publik dan pemimpin politik yang menghadapi risiko lebih tinggi terhadap serangan deepfake yang ditargetkan.
Menurut digitaltrends, untuk saat ini, program tersebut akan tetap terbatas pada individu-individu berpengaruh dan bukan masyarakat umum. Namun, perluasan ini menandakan pergeseran yang lebih luas di seluruh industri teknologi yang bergerak cepat untuk membangun pengaman sebelum media yang dihasilkan AI menjadi tidak mungkin dibedakan dari kenyataan. (JR).