BPJS Kesehatan Kupang Gelar Prolanis Pertama 2026

  • 01 Feb 2026 10:49 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang - BPJS Kesehatan Cabang Kupang menyelenggarakan kegiatan Prolanis Pertama Tahun 2026 di Pelataran Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini dilakukan dengan maksud untuk melakukan pengelolaan penyakit kronis yang dialami oleh pasien. 

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kupang, dr. Ario Trisaksono kepada RRI menyampaikan bahwa, saat ini yang dikelola dalam Prolanis adalah pasien-pasien dengan penyakit Diabetes Melitus dan Hipertensi/Tekanan Darah Tinggi yang telah diikuti dengan antusias dari 12 Puskesmas dan Klinik Pratama serta dokter praktek perorangan yang telah bekerja sama dengan BPJS kesehatan.

Ia menjelaskan bahwa setiap Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, masing-masing memiliki satu club Prolanis yang terdiri dari 30 orang baik itu pasien dengan penyakit DM maupun HT.

dr.Ario menuturkan, kegiatan Prolanis sudah menjadi rutinitas yang diselenggarakan sebulan sekali di setiap FKTP. Rangkaian kegiatan Prolanis ini terdiri dari edukasi dokter/tenaga kesehatan yang ada di tingkat faskes, senam sehat bersama, serta pemeriksaan kesehatan. "Jadi Pasien yang menderita penyakit DM harus melakukan cek gula darah secara rutin maupun juga untuk penderita Hipertensi," ucapnya.

Tampak para peserta Club Prolanis sedang mengikuti skrining kesehatan (Foto.Aris Lake)

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kupang ini mengungkapkan bahwa dalam setahun, seluruh peserta Prolanis biasanya difasilitasi pemeriksaan kesehatan secara lengkap sebanyak dua kali  yakni: kimia darah dan HbA1c.

Selain kegiatan di atas, dilakukan juga Penandatanganan Komitmen antara Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah Bali, NTB, dan NTT, Mangisi Raja Simarmata dan Kepala UPTD Dinas Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi NTT Nur Azizah dalam upaya peningkatan layanan program promotif preventif.

Pose bersama usai Penandatanganan Komitmen antara Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah Bali, NTB, dan NTT, dan UPTD Dinas Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi NTT.(Foto.Aris Lake)

Lebih lanjut dr. Ario menjabarkan bahwa para peserta Prolanis yang beresiko dari pelaksanaan skrining ini maka akan melakukan pemeriksaan sekunder di Labkesda NTT. Dalam kesempatan tersebut peserta JKN telah berikan ruang untuk melakukan skrining riwayat kesehatan berupa pertanyaan-pertanyaan yang bisa diisi di mobile JKN/website/link BPJS Kesehatan. 

Melalui dasar tersebut, peserta Prolanis akan mengisi pertanyaan yang tersedia. Hasil dari jawaban-jawaban yang ada, peserta bisa dikategorikan berpotensi dalam 14 resiko skrining atau tidak. Apabila peserta Prolanis ini ditemukan berpotensi terhadap 14 diagnosa itu, maka peserta tersebut akan dilakukan pemeriksaan tahap dua yang bisa dilakukan oleh laboratorium yang telah bekerja sama.

Selain itu juga, apabila dari hasil pemeriksaan ini peserta terdiagnosa DM dan HT, maka peserta tersebut akan ikut menjadi peserta prolanis, yang setiap bulan dipantau kesehatannya. Lebih lanjut dr.Ario berharap, kegiatan Prolanis ini terus berjalan. Ia menegaskan kepada seluruh peserta JKN di NTT jika dalam skriningnya beresiko maka diperbolehkan untuk melanjutkan ke tahap  dua atau jika berpotensi mengidap  DM/Hipertensi pasien tersebut bisa rutin melaksanakan kegiatan Prolanis.

Mengingat, dalam Prolanis akan diberikan banyak edukasi untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil (tidak bertambah parah) atau bisa menjadi baik sehingga penyakit yang dialami tidak mengarah kepada komplikasi. Ia menekankan bahwa jika penyakit tersebut tidak dideteksi sejak dini, kemungkinan besar akan menjadi pintu masuk untuk penyakit-penyakit kronis seperti: gagal ginjal, jantung, dan penyakit lainnya.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, ketika menyampaikan arahannya dalam kegiatan Prolanis dan Penandatanganan Komitmen antara Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah Bali, NTB, dan NTT, dan UPTD Dinas Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi NTT.(Foto. Aris Lake)

Sementara itu, Gubenur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, yang hadir dalam kesempatan mengatakan, kegiatan Prolanis dan Penandatanganan Komitmen antara BJPS Kesehatan Wilayah Bali Nusra dan Labkesda NTT menjadi momentum penting dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis promotif dan preventif di Provinsi NTT. 

"Kegiatan pada hari ini merupakan rangkaian dari upaya penguatan layanan promotif dan preventif, sekaligus bentuk komitmen bersama dalam mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan keluarga melalui pemanfaatan layanan skrining secara optimal," kata Gubernur Melkiades. 

Menurutnya, kolaborasi yang terbangun antara BPJS Kesehatan, UPTD Laboratorium Kesehatan Provinsi NTT, dan seluruh mitra terkait merupakan bentuk komitmen bersama dalam menghadirkan layanan kesehatan yang terpadu, berkualitas, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

Gubernur NTT menegaskan pentingnya melakukan skrining riwayat kesehatan. Ia mengungkapkan skrining riwayat kesehatan merupakan program deteksi dini penyakit kronis melalui pemeriksaan kesehatan yang dilakukan melalui mobile JKN maupun website/link BPJS Kesehatan. Jika hasil dari pemeriksaan tersebut “berisiko” maka bisa dilakukan pemeriksaan skrining lanjutan oleh laboratorium, sehingga penyakit tersebut tidak bertambah parah.

"Dari proses skrining Riwayat Kesehatan ini kita dapat mendeteksi apakah peserta JKN beresiko atas penyakit kronis diantaranya diabetes melitus, hipertensi, gangguan fungsi ginjal, kolesterol, serta kondisi kesehatan lainnya yang sering berkembang tanpa gejala ataukah tidak," ucap Gubernur Melki.

Orang nomor satu Pemprov NTT ini menuturkan, pelaksanaan skrining ini juga merupakan bentuk optimalisasi pemanfaatan Program Jaminan Kesehatan Nasional, khususnya melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan, sehingga pelayanan yang diberikan dapat berlangsung secara terstandar, terjamin pembiayaannya, serta dapat diakses secara luas oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Terkait dengan kegiatan tersebut, Gubernur Melki juga mengharapkan seluruh masyarakat untuk :

  1. Melakukan skrining kesehatan secara rutin guna menemukan faktor risiko dan penyakit sejak dini;
  2. Memastikan kepesertaan JKN dalam kondisi aktif;
  3. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin setiap bulan di FKTP terdaftar; dan
  4. Menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga teratur serta konsumsi makanan bergizi dan seimbang.

Lebih lanjut Melki menegaskan bahwa Kesehatan merupakan modal utama dalam mewujudkan manusia yang produktif, profesional, dan berdaya saing, termasuk pula para ASN, pensiunan maupun seluruh masyarakat NTT.  Ia mengemukakan masyarakat yang sehat akan mampu memberikan pelayanan publik secara optimal, berkelanjutan, dan berkualitas. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan tidak cukup jika hanya dilakukan ketika sakit, namun harus dimulai sejak dini melalui pencegahan dan deteksi dini penyakit.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kadis Kesehatan Provinsi NTT drg. Iien Adriany, dan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Atambua dr. Sarwika Meuseke.(AL)

Rekomendasi Berita