Kasus Stunting di Puskesmas Tarus Masih Tinggi
- 10 Mar 2026 11:42 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Tarus, Kabupaten Kupang, masih menunjukkan peningkatan pada awal tahun 2026. Data Puskesmas Tarus mencatat jumlah anak stunting pada Januari sebanyak 183 anak, dan meningkat menjadi 185 anak pada Februari.
Kondisi ini menjadi perhatian tenaga kesehatan setempat untuk terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting di masyarakat. Kepala Puskesmas Tarus, dr. Novella, saat ditemui RRI di Tarus, Selasa 10 Maret 2026 menyampaikan, peningkatan kasus stunting tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya masih kurangnya edukasi kepada masyarakat, kondisi ekonomi keluarga, serta pendampingan kesehatan yang belum maksimal.
Menurut dr. Novella, pihak Puskesmas Tarus terus melakukan berbagai langkah penanganan. Salah satunya dengan memberikan edukasi secara rutin kepada keluarga yang memiliki anak berisiko stunting.
“Penyebab stunting ini bukan hanya dari faktor kesehatan saja, tetapi juga karena masih kurangnya edukasi kepada masyarakat. Faktor ekonomi keluarga, serta pendampingan dari tenaga kesehatan yang masih perlu ditingkatkan,” ucap dr. Novella, saat di temui RRI.CO.ID, di ruang kerjanya, Selasa 10 Maret 2026.
Lebih lanjut Ia menuturkan, dalam penanganan stunting, Puskesmas Tarus juga membentuk tim pembinaan yang dibagi ke beberapa wilayah dengan penanggung jawab langsung di tingkat desa. Tim tersebut bertugas melakukan pendampingan kepada keluarga serta memantau perkembangan anak secara berkala.
Monitoring dan evaluasi juga dilakukan secara rutin setiap minggu oleh petugas kesehatan untuk memastikan kondisi anak yang mengalami stunting dapat terus dipantau dan ditangani dengan baik. Saat ini, pihak Puskesmas Tarus juga tengah berupaya mencari dukungan bantuan dengan mengajukan proposal kepada berbagai pihak, baik berupa bantuan dana maupun bantuan langsung seperti susu tambahan bagi keluarga yang membutuhkan.
“Kami juga sedang mengajukan proposal bantuan, baik berupa dana maupun bantuan langsung seperti susu bagi keluarga yang membutuhkan. Karena stunting ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga,” ucap dr. Novella.
Ia juga mengimbau kepada para ibu hamil untuk rutin memeriksakan kondisi kesehatannya di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama jika ditemukan lingkar lengan atas kurang dari 23,5 sentimeter yang merupakan salah satu indikator risiko kekurangan gizi. Menurutnya, pemeriksaan tidak hanya dilakukan di bagian kebidanan, tetapi juga perlu berkonsultasi dengan bagian gizi agar ibu hamil mendapatkan informasi serta penanganan yang tepat guna mencegah stunting sejak dini.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk selalu memperbarui data kependudukan ke dinas terkait agar bantuan pemerintah dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada keluarga yang membutuhkan. (ai)