Belut Apu: Legenda Nenek Moyang Penjaga Danau Laputi
- 04 Jan 2026 13:59 WIB
- Kupang
KBRN,Sumba: Danau Laputi yang terletak di Desa Praing Kareha, Kecamatan Tabundung, Kabupaten Sumba Timur, kini semakin dikenal luas sebagai destinasi wisata yang menyimpan keindahan alam luar biasa sekaligus misteri legenda yang sangat kental. Objek wisata ini dianggap sebagai harta tersembunyi di Pulau Sumba karena memiliki kondisi air yang sangat bersih serta jernih, sehingga mampu memanjakan mata setiap wisatawan yang datang berkunjung ke sana.
Dibalik pesona airnya yang tenang, masyarakat setempat meyakini adanya keberadaan seekor belut yang dikenal dengan sebutan Belut Apu sebagai penghuni tetap danau tersebut. Belut legendaris ini tidak hanya dianggap sebagai hewan air biasa, melainkan dipercaya oleh penduduk lokal sebagai sosok nenek moyang bagi orang Sumba yang harus dihormati secara turun-temurun.
Nama "Apu" yang disematkan pada belut tersebut memiliki arti khusus dalam bahasa masyarakat Kabupaten Sumba Timur, yakni bermakna "Nenek" sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur. Informasi mengenai asal-usul nama ini menjadi bagian penting bagi para pelancong agar mereka dapat memahami nilai-nilai budaya dan spiritual yang melekat erat pada lokasi wisata Danau Laputi ini.
Fenomena unik yang sering diceritakan adalah cara untuk melihat penampakan Belut Apu, di mana para pengunjung harus memanggil nama "Apu" secara perlahan di pinggiran danau yang tenang. Jika beruntung, belut-belut tersebut dipercaya akan muncul ke permukaan air karena mereka seolah-olah mengenali panggilan tersebut sebagai bentuk komunikasi antara manusia dengan penjaga alam di danau itu.
Lokasi geografis Danau Laputi sendiri berada tepat di bagian atas air terjun Laputi, sebuah posisi yang memberikan pemandangan alam spektakuler bagi siapa saja yang berhasil mencapai titik puncak tersebut. Keberadaan danau di atas air terjun ini menambah kesan magis dan eksotis, menjadikannya salah satu destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalanan wisata saat menjelajahi wilayah Sumba - Nusa Tenggara Timur.
Terdapat aturan adat yang sangat ketat dan harus ditaati oleh siapapun, yakni larangan keras untuk menangkap apalagi mengonsumsi belut yang hidup di dalam ekosistem Danau Laputi tersebut. Larangan ini bukan sekadar mitos belaka, namun merupakan bentuk kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan alam dan menghargai keberadaan makhluk yang dianggap suci oleh warga Desa Praing Kareha.
Menariknya, belut-belut keramat ini dikenal memiliki sifat yang sangat jinak kepada manusia, sehingga tak jarang pengunjung yang beruntung mendapatkan kesempatan langka untuk memberi mereka makan secara langsung di tepi danau. Dengan adanya legenda yang terus dijaga, Danau Laputi tetap menjadi habitat yang aman bagi fauna khas daerah tersebut sekaligus menjadi identitas budaya yang sangat membanggakan bagi warga Sumba. (AN)