Pariwisata Berkelanjutan Perkuat Identitas Budaya NTT

  • 25 Feb 2026 21:11 WIB
  •  Kupang

RRI. CO. ID, Kupang- Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki banyak kekayaan alam dan budaya yang mempesona, namun dibaliknya ada tantangan terbesar, yaitu memastikan kemajuan pariwisata tersebut benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat lokal dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Menurut Yessi Kristina Tamonob, mahasiswa pascasarjana (MSc) International Hospitality and Tourism Management dari Bournemouth University, Inggris, dalam “Obrolan Akamsi" RRI Pro 4 Kupang pada Senin, 23 Februari 2026, pariwisata berkelanjutan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak bagi masa depan NTT.

Ia menjelaskan bahwa pariwisata berkelanjutan bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu lingkungan, seperti menjaga keaslian alam, laut, dan hutan agar tidak rusak oleh aktivitas wisata, serta sosial budaya, dengan menghormati nilai-nilai lokal dan memastikan masyarakat adat terlibat aktif dan menjaga agar identitas budayanya tidak tergerus. Pilar terakhir adalah peningkatan ekonomi, yaitu menciptakan distribusi manfaat ekonomi yang adil dan berjangka panjang bagi warga setempat.

"Pariwisata berkelanjutan itu bukan hanya soal ramah lingkungan, tapi juga tentang keadilan sosial dan bagaimana masyarakat lokal merasakan dampak ekonominya secara langsung," ujarnya.

Sebagai seorang pemandu wisata di Pulau Timor, Yessi menyoroti bahwa NTT memiliki potensi kelas dunia seperti Labuan Bajo dan Pantai Lasiana. Namun, masih ada kendala besar pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan edukasi kepada masyarakat.

Ia mencatat bahwa banyak destinasi yang viral di media sosial tidak dibarengi dengan kesiapan fasilitas dan pengelolaan sampah yang baik. Yessi juga mengingatkan akan bahaya over-tourism (kepadatan wisatawan yang berlebih), yang jika tidak dibatasi dapat merusak daya dukung lingkungan dan menghilangkan keaslian budaya lokal.

Yessi mengajak generasi muda NTT untuk mengambil peran sebagai "agen perubahan" melalui tiga kekuatan utama, yaitu literasi digital untuk promosi kreatif, kesadaran lingkungan yang tinggi, dan semangat kewirausahaan dalam mengelola UMKM atau desa wisata.

Ia juga menekankan pentingnya konsep Responsible Tourism (Pariwisata Bertanggung Jawab). "Pengunjung harus mengedukasi diri sebelum datang ke sebuah destinasi, terutama di wilayah konservasi atau masyarakat adat, agar tidak terjadi konflik kepentingan," tambahnya.

Menutup obrolan, Yessi berharap pariwisata di NTT ke depan tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena tata kelolanya yang adil. Ia bercita-cita agar pariwisata menjadi alat perubahan sosial yang mampu mengurangi kemiskinan dan memperkuat identitas budaya masyarakat NTT.

"Jika masyarakat menjadi pusat dari pembangunan, maka pariwisata akan menjadi berkat, bukan beban," pungkasnya. (JR)

Rekomendasi Berita