Puisi Bencana Karya Juni Ahyar Lolos Kurasi Antologi
- 28 Des 2025 19:18 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Tidak semua kabar pantas dirayakan dengan sorak. Ada kabar yang lebih layak disambut dengan diam, kepala tertunduk, dan rasa hormat yang pelan. Kabar itu datang dari dunia sastra: penyair asal Aceh, Juni Ahyar, dinyatakan lolos kurasi dalam Antologi Bencana Jilid II: Air Mata Sumatra melalui puisinya berjudul “Tangisan Terakhir dari Hulu yang Hilang.”
Kabar ini tidak disertai panggung megah, baliho, ataupun konferensi pers. Namun justru dalam kesunyian itulah nilai kejujurannya berdiam. Sebab sastra, sejak awal, tidak pernah ditakdirkan untuk bersaing dengan gemuruh kekuasaan, melainkan untuk mengingatkan manusia bahwa di balik angka statistik dan laporan resmi, selalu ada jiwa yang remuk perlahan.
Dari Lhokseumawe kota yang menyimpan sejarah luka, ketabahan, dan ingatan Panjang kembali mengalir sebuah suara. Bukan teriakan, melainkan bisikan panjang dari mereka yang menulis bukan untuk terkenal, tetapi untuk bertahan.
Dalam iklim media yang sering kali memberi ruang paling luas bagi suara paling lantang, karya-karya yang lahir dari kesunyian kerap terpinggirkan. Padahal, sastra terlebih sastra bencana tidak pernah ditujukan menjadi tren musiman. Ia adalah kerja ingatan jangka panjang.
Puisi “Tangisan Terakhir dari Hulu yang Hilang” hadir bukan sebagai romantisasi penderitaan, melainkan sebagai upaya jujur merawat ingatan kolektif. Juni Ahyar tidak menulis demi nama. Ia menulis karena luka tak bisa ditidurkan terlalu lama, dan ingatan tak akan sembuh hanya dengan pembangunan fisik atau seremoni tahunan.
Air Mata Sumatra sendiri bukan sekadar antologi. Ia adalah ruang ingatan bersama. Diprakarsai oleh komunitas Kuflet Padang Panjang dan Elepsis, buku ini memosisikan bencana bukan sebagai tontonan belas kasihan, melainkan sebagai cermin rapuh kemanusiaan. Para penyair di dalamnya seakan berkata: kami tidak ingin dilupakan, tetapi juga tidak ingin dikasihani.
Aceh bukan wilayah yang asing dengan kehilangan. Gempa, tsunami, konflik panjang, hingga luka-luka sosial yang tak selalu tercatat dalam arsip resmi negara, telah membentuk tradisi ingatan yang diwariskan melalui cerita lisan, doa, dan puisi. Maka kehadiran penyair Aceh dalam antologi ini bukan kebetulan, melainkan kelanjutan dari tradisi panjang tersebut.
Menariknya, Aceh yang dihadirkan dalam puisi ini bukan Aceh sebagai simbol korban abadi, melainkan Aceh sebagai manusia: terluka, tetapi berpikir; remuk, namun tetap bermartabat. Sebuah kejujuran matang yang langka di tengah budaya yang gemar memproduksi kesedihan secara massal.
Di era konten instan dan viralitas, karya seperti Air Mata Sumatra justru terasa asing. Ia tidak menjanjikan sensasi, tetapi menawarkan perenungan. Ia tidak mengejar sorotan, namun teguh menjaga arah. Di sanalah martabat sastra berdiri.
Keberhasilan Juni Ahyar lolos kurasi bukan semata soal capaian personal, melainkan tentang keberanian untuk tetap menulis di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan. Puisi dalam Air Mata Sumatra bukan hanya tentang kesedihan, tetapi tentang keberanian mengingat dengan cara yang bermartabat menjadikan kata sebagai doa, dan puisi sebagai jembatan antara luka dan harapan.