Komunitas Batik Kenalkan Warna Alam yang Ramah Lingkungan

  • 11 Feb 2026 13:01 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Pelatihan pewarnaan batik menggunakan warna alam digelar komunitas perajin batik “Sinisuka”, sebagai upaya memperkenalkan teknik ramah lingkungan. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memahami perbedaan mendasar antara pewarna sintetis dan pewarna alami, mulai dari bahan baku, proses pengerjaan, hingga nilai jual produk akhir.

Lilik Widiawati (WMH Batik), narasumber dalam pelatihan tersebut, menjelaskan bahwa pewarna sintetis berasal dari bahan kimia, sementara warna alam diperoleh dari bahan-bahan alami seperti kulit kayu dan daun.

“Kalau sintetis terbuat dari bahan kimia. Tapi kalau warna alam seperti ini berasal dari kulit kayu dan bahan alami lainnya. Keunggulannya tentu tidak mencemari lingkungan,” ujarnya sambil menunjukkan contoh hasil pewarnaan.

Lilis menjelaskan selain lebih ramah lingkungan, warna alam juga memiliki karakter warna yang berbeda. Hasil akhirnya cenderung lebih lembut atau soft dan tidak terlalu mencolok. Justru karena tampilannya yang kalem inilah batik warna alam memiliki segmen pasar tersendiri.

“Dari segi warna memang lebih soft. Tapi untuk harga jualnya justru lebih tinggi, karena biasanya lebih disukai oleh orang luar negeri dan pecinta batik yang peduli lingkungan,” jelasnya.

Lilis mengungkapkan dalam hal pemasaran, batik dengan pewarna sintetis masih lebih banyak diminati pasar lokal. Prosesnya yang lebih cepat dan harga yang relatif terjangkau menjadi alasan utama.

Sebaliknya, batik warna alam lebih diminati oleh konsumen yang benar-benar memahami proses membatik serta memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan. Mereka umumnya tidak mempermasalahkan harga yang lebih tinggi karena menyadari proses produksinya yang lebih panjang.

Meski demikian, menurut Lilik, proses pewarnaan alam sebenarnya tidak lebih sulit, hanya membutuhkan ketelatenan dalam tahap pencelupan. Semakin banyak pencelupan, warna yang dihasilkan akan semakin pekat. Proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra dari perajin. “Kalau sintetis cukup satu kali celup, difiksasi, selesai. Tapi kalau warna alam minimal lima kali pencelupan. Bisa 10 sampai 15 kali, tergantung tingkat kepekatan warna yang diinginkan,” terangnya.

Bahan pewarna alam pun sangat beragam dan sebagian besar mudah ditemukan di sekitar lingkungan. Di antaranya kayu secang, mengkudu, kulit manggis, daun jati, kayu tinggi, hingga mangrove. Bahkan limbah seperti sepet kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna.

Kunci utama bahan pewarna alam adalah kandungan tanin yang tinggi. Tanin inilah yang membantu menghasilkan warna alami yang kuat pada kain. Sebagai contoh, untuk menggunakan sepet kelapa, bahan tersebut direbus selama kurang lebih tiga hingga empat jam. Air rebusan dari enam hingga delapan liter harus menyusut menjadi sekitar dua liter agar kandungan taninnya benar-benar keluar dan siap digunakan untuk pencelupan kain.

Batik dengan warna alam juga memerlukan perawatan khusus. Kain tidak boleh dijemur langsung di bawah sinar matahari dan tidak dianjurkan dicuci menggunakan mesin cuci. Pencucian sebaiknya dilakukan secara lembut menggunakan tangan dan sabun khusus atau bahkan sampo.

“Kalau terlalu sering dicuci bukan cepat luntur, tapi cepat kusam,” tambahnya.

Meski warnanya cenderung lembut, batik warna alam tetap bisa dibuat dalam variasi warna berbeda dalam satu kain. Caranya dengan teknik fiksasi bertahap dan penutupan bagian tertentu sebelum pencelupan ulang, sehingga tercipta gradasi atau perbedaan warna meski berasal dari satu bahan dasar.

Batik warna alam juga dapat dikombinasikan dengan warna sintetis, misalnya pada bagian sogan. Kombinasi ini justru menambah daya tarik sekaligus meningkatkan nilai jual produk.

Dengan pelatihan ini, diharapkan semakin banyak perajin yang tertarik mengembangkan teknik pewarnaan alami sebagai alternatif berkelanjutan. Selain menjaga lingkungan, batik warna alam juga menawarkan nilai estetika dan ekonomi yang tidak kalah menjanjikan.


Rekomendasi Berita