Delapan Tahun Bertahan, Batik Habsari Jadi Ruang Healing
- 06 Mar 2026 08:47 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Perjalanan Batik Habsari bukan sekadar kisah tentang bertahan di tengah persaingan industri kreatif, tetapi juga tentang hobi yang tumbuh menjadi ruang penyembuhan diri. Selama delapan tahun terakhir,
Helda Tri Habsari memilih menapaki jalannya dengan cara yang berbeda: bertahan bersama komunitas kecil yang solid, alih-alih bergantung penuh pada dukungan besar dari luar.
“Sebenarnya ada support dari pemerintah, cuma entah kenapa saya lebih senang survive sendiri, sama teman-teman yang sefrekuensi,” ujar Helda.
Baginya, bekerja dalam kelompok kecil justru menghadirkan semangat yang lebih terasa. Ia lebih memilih bergerak bersama tiga atau empat orang rekan yang aktif, saling mendukung, dan mau belajar bersama.
“Kalau berkelompok cuma beberapa orang itu rasanya lebih semangat. Daripada banyak orang tapi malah terasa sendirian. Kalau sendirian malah enggak ada yang support, semangatnya enggak ada,” ungkapnya.
Menurutnya, komunitas kecil memberi ruang gerak yang lebih leluasa. Tidak banyak aturan yang mengikat seperti ketika bergabung dalam kelompok besar atau program tertentu.
“Kalau dari pihak lain kan biasanya kita harus ikut rule mereka. Saya lebih suka yang kecil tapi aktif,” tambahnya.
Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah usaha batik rumahan. Dalam perjalanannya, Helda mengakui bahwa secara ekonomi Batik Habsari belum sepenuhnya menjadi penopang utama kebutuhan hidupnya, terlebih setelah sempat vakum sehingga produksi tidak maksimal.
“Kalau secara kebutuhan ekonomi jujur memang belum terlalu meng-cover. Apalagi setelah saya vakum, produksinya tidak begitu up,” tuturnya.
Namun ada alasan lain yang membuatnya tetap bertahan. Membatik sudah menjadi bagian dari hidupnya, lebih dari sekadar pekerjaan.
“Ini sudah jadi hobi. Kalau mau berhenti rasanya sayang. Masih bisa menghasilkan satu dua lembar tiap bulan, itu sudah lumayan. Buat saya ini terapi, hiburan diri sendiri,” katanya.
Bagi Helda, membatik adalah bentuk healing. Proses mencanting, merancang motif, hingga melihat hasil akhir kain menjadi kepuasan tersendiri yang sulit digantikan.
Semangat belajar juga terus dijaga. Baru-baru ini, Helda mengikuti pelatihan warna alam untuk pertama kalinya. Ia memilih belajar melalui forum kecil bersama sesama perajin, di mana ilmu dibagikan secara langsung oleh rekan yang lebih dulu mendalami teknik tersebut.
“Saya baru pertama kali ikut pelatihan warna alam ini. Kebetulan rekan saya sudah lebih dulu belajar, jadi dia sharing ilmunya ke kita,” jelasnya.
Format belajar dalam kelompok kecil kembali menjadi pilihannya. Menurutnya, pembelajaran lebih efektif ketika pesertanya tidak terlalu banyak.
“Kalau terlalu banyak orang kadang cuma lihat saja, ilmunya enggak terserap. Kalau kelompok kecil begini lebih dapat, lebih terserap,” ujarnya.
Baginya, berbagi pengetahuan antarperajin adalah cara bertumbuh bersama tanpa harus saling bersaing secara tidak sehat.
Meski tidak berambisi besar untuk ekspansi masif, Helda tetap memiliki harapan agar Batik Habsari terus berjalan dan berkembang sesuai kemampuannya. Ia ingin tetap konsisten berkarya, menjaga semangat komunitas kecilnya, dan terus belajar teknik-teknik baru.
Perjalanan Batik Habsari membuktikan bahwa keberhasilan usaha tidak selalu diukur dari skala produksi atau omzet besar. Terkadang, bertahan selama delapan tahun dengan cinta terhadap proses dan dukungan komunitas yang tepat sudah menjadi pencapaian tersendiri.
Bagi Helda, selama canting masih bisa digerakkan dan kain masih bisa menghasilkan satu dua karya setiap bulan, Batik Habsari akan tetap hidup sebagai ruang berkarya sekaligus ruang healing.