Tren Fast Fashion Picu Limbah Pakaian di Kalangan Gen Z
- 10 Mar 2026 14:34 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Limbah pakaian menjadi salah satu persoalan lingkungan yang semakin mendapat perhatian. Meningkatnya produksi dan konsumsi pakaian membuat jumlah sampah tekstil di dunia terus bertambah setiap tahun.
Dosen Biologi Universitas PGRI Madiun (UNIPMA), Dr. W. Linda Yuhanna, M.Si. dalam dialog Jaga Malam Pro 2 RRI Madiun mengatakan tren fast fashion turut berkontribusi terhadap peningkatan limbah pakaian. Fenomena ini juga berkaitan dengan gaya hidup generasi muda yang mengikuti perkembangan tren fashion secara cepat.
“Fast fashion juga menjadi isu utama ya, bagaimana pakaian itu menjadi penyumbang limbah dan juga sampah yang ada di dunia ini,” ujar Linda. Menurutnya, tren fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren membuat sebagian orang terus-menerus membeli pakaian baru.
Kondisi tersebut tanpa disadari mendorong perilaku konsumtif dalam penggunaan pakaian. Padahal, banyak pakaian yang masih layak pakai tetapi ditinggalkan karena muncul tren mode yang lebih baru.
Linda menjelaskan bahwa kebiasaan membeli pakaian secara berulang dapat membuat jumlah limbah tekstil semakin menumpuk. Terlebih, sebagian besar bahan pakaian membutuhkan waktu yang lama untuk dapat terurai di lingkungan.
“Ketika bajunya masih bagus tapi ada tren baru, akhirnya beli lagi dan lagi. Saat sudah tidak dipakai dan dibuang, itu membutuhkan waktu lama untuk bisa terurai,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa membakar pakaian bekas juga bukan solusi yang tepat. Proses pembakaran justru dapat meningkatkan emisi karbon yang berdampak buruk bagi lingkungan.
Karena itu, konsep keberlanjutan atau sustainability dinilai penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran untuk menggunakan pakaian secara bijak serta mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan di masa depan menjadi langkah yang dapat membantu mengurangi limbah tekstil.