Bahaya Judi Online Menurut Psikolog
- 28 Feb 2026 16:59 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Judi online atau yang kerap disebut judol semakin marak di tengah masyarakat, termasuk di kalangan anak muda. Dari sudut pandang psikologi, aktivitas ini bukan sekadar permainan berbasis taruhan, tetapi memiliki risiko serius terhadap kesehatan mental dan perilaku individu.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa judi online bekerja dengan sistem reward atau hadiah yang dirancang untuk memicu rasa senang sesaat.
“Saat seseorang menang, otak melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa senang. Sensasi inilah yang membuat pemain ingin terus mengulanginya,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Masalahnya, kemenangan dalam judi online bersifat tidak pasti dan acak. Sistem ini justru membuat pemain semakin terdorong untuk mencoba lagi ketika kalah, dengan harapan bisa mengembalikan kerugian.
Pola ini dikenal sebagai loss chasing, yaitu kecenderungan mengejar kekalahan yang justru memperbesar risiko kecanduan. Secara psikologis, kecanduan judi online dapat memicu stres, kecemasan, hingga depresi.
Tekanan akibat kerugian finansial sering kali membuat individu merasa bersalah, malu, bahkan putus asa. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada gangguan tidur, perubahan emosi, serta menurunnya produktivitas.
Tidak hanya berdampak pada individu, judi online juga merusak relasi sosial. Ketergantungan pada judi dapat membuat seseorang menarik diri dari lingkungan, berbohong kepada keluarga, atau mengalami konflik rumah tangga akibat masalah keuangan.
Andi menambahkan bahwa judi online dirancang agar mudah diakses kapan saja melalui ponsel. Kemudahan ini membuat kontrol diri semakin diuji, terutama pada remaja dan dewasa muda yang masih dalam tahap perkembangan emosi.
“Semakin sering seseorang terpapar dan mencoba, semakin besar risiko terbentuknya kebiasaan kompulsif. Pada titik tertentu, individu tidak lagi bermain untuk menang, tetapi karena dorongan psikologis yang sulit dikendalikan,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya edukasi dan pencegahan sejak dini. Keluarga dan lingkungan perlu membangun komunikasi terbuka agar anak muda tidak terjebak dalam iming-iming keuntungan instan.