Tiwul: Warisan Kuliner dari Singkong dan Simbol Ketahanan Pangan

  • 20 Feb 2026 19:55 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Tiwul merupakan salah satu kekayaan kuliner tradisional Indonesia yang berasal dari wilayah Jawa, khususnya daerah Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan. Makanan ini terbuat dari gaplek, yaitu singkong yang telah dikupas dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Teksturnya yang kenyal dengan cita rasa gurih yang khas membuat tiwul tetap memiliki tempat di hati masyarakat meski perkembangan zaman membawa banyak pilihan makanan modern.

Melansir dari indonesiakaya.com, tiwul sebenarnya merupakan makanan pokok masyarakat pada masa lalu. Tiwul yang berbahan baku singkong dijadikan pengganti nasi ketika harga beras tidak terbeli oleh masyarakat. Hal ini terjadi pada era penjajahan Jepang dan pada era 1960-an. Pada masa lalu, tiwul dimakan selayaknya nasi, dengan lauk pauk serta sayuran.

Proses pembuatan tiwul dimulai dengan menumbuk gaplek hingga menjadi butiran tepung kasar yang disebut tepung mocal. Tepung ini kemudian dipercikkan sedikit air dan digoyang-goyangkan di atas tampah hingga membentuk butiran-butiran kecil menyerupai kerikil. Setelah itu, butiran singkong tersebut dikukus hingga matang dan mengeluarkan aroma harum yang menggugah selera. Keterampilan tangan dalam mengolah butiran ini sangat menentukan tekstur akhir tiwul agar tidak terlalu keras atau lembek.

Seiring berjalannya waktu, fungsi tiwul mengalami pergeseran, dari makanan pokok darurat menjadi kudapan yang digemari berbagai kalangan. Saat ini, tiwul sering disajikan sebagai camilan manis dengan taburan kelapa parut dan gula merah cair. Inovasi rasa pun mulai bermunculan, mulai dari tiwul rasa cokelat, keju, hingga varian buah-buahan, guna menarik minat generasi muda agar tetap melestarikan pangan lokal ini.

Dari sisi nutrisi, tiwul memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi namun dengan indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih. Hal ini menjadikan tiwul sebagai alternatif karbohidrat yang lebih bersahabat bagi penderita diabetes atau mereka yang sedang menjalani program diet. Selain itu, kandungan serat dalam singkong kering juga baik untuk kesehatan pencernaan jika dikonsumsi dalam porsi yang tepat.

Menjaga keberadaan tiwul berarti juga merawat sejarah dan kemandirian pangan bangsa Indonesia. Meski kini beras mudah didapatkan, popularitas tiwul sebagai warisan budaya kuliner harus terus didukung melalui promosi dan kreativitas pengolahan.

Rekomendasi Berita