Menghidupkan Kembali Spirit 'Mabulo Sipeppa' di tengah Hiruk Pikuk Ramadan Modern
- 21 Feb 2026 04:00 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Ramadan di kota makassar selalu memiliki warna yang unik. Di balik gemerlap lampu kota dan padatnya pusat perbelanjaan, masih tersimpan sebuah nilai luhur yang tetap dijaga erat oleh masyarakatnya: Mabulo Sipeppa. Filosofi ini bukan sekadar slogan, melainkan napas gotong royong yang menyatukan hati warga dalam balutan ibadah puasa.
Secara harfiah, Mabulo Sipeppa menggambarkan bambu yang terbelah namun tetap menyatu dalam ikatan yang kuat. Dalam konteks sosial saat ini, makna tersebut diterjemahkan sebagai aksi kolektif untuk meringankan beban sesama. Dari lorong-lorong sempit hingga perumahan elit, warga terlihat kompak menyiapkan "Buka Puasa Bersama" yang dikelola secara swadaya.
Dilansir dari muisulsel.or.id Segala bentuk kebaikan jika engkau tertarik melakukannya maka segeralah kerjakan sebelum engkau dan kebaikan tersebut terhalangi (Imam Ahmad bin Hambal). Pesan hikmah ini, yang disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hambal, memberikan pengertian yang mendalam tentang tindakan proaktif dalam melakukan kebaikan.
Mattulada. (1995). Latoa: Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press. (Sumber utama mengenai nilai kebudayaan lokal). Fenomena ini adalah bentuk resistensi terhadap sikap individualis yang mulai menggerus masyarakat urban. Ramadan menjadi momentum emas untuk merekatkan kembali ikatan sosial yang sempat renggang akibat kesibukan sehari-hari, dengan Mabulo Sipeppa sebagai jembatan moralnya.
Dengan terus menghidupkan spirit ini, Ramadan tidak hanya menjadi ritual menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi ajang "revolusi sosial" kecil-kecilan. Melalui gotong royong, masyarakat membuktikan bahwa kebersamaan adalah kunci utama dalam meraih keberkahan yang hakiki di bulan yang suci ini.