Prof Nurhayati Rahman Ajak Milenial Kemas Pesan Leluhur dalam Bentuk Animasi
- 28 Feb 2026 20:51 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Pergeseran pola hidup masyarakat milenial yang lebih akrab dengan gadget menjadi tantangan besar dalam pelestarian budaya daerah. Prof. Dr. Hj. Nurhayati Rahman Matammeng, M.Hum., menilai digitalisasi konten lokal menjadi solusi mutlak agar pesan leluhur tetap relevan bagi anak muda.
Menurut Prof Nurhayati, tradisi penurunan nilai-nilai Papaseng Toriolo kini mengalami hambatan karena dominasi konsumsi budaya global. Namun, ia optimis bahwa nilai kearifan lokal tidak boleh berhenti dan harus mengikuti perkembangan zaman melalui inovasi teknologi.
"Nilai itu tidak boleh berhenti. Anak-anak sekarang begitu bangun langsung memegang HP. Maka, pesan leluhur harus dikemas dalam bentuk digital, misalnya melalui animasi, agar mereka memahami nilainya tanpa merasa dipaksa," tegasnya dalam wawancara di Pro 4 RRI Makassar, Jumat, 27 Februari 2026.
Lebih lanjut, ia menyoroti peran penting bahasa ibu dalam melestarikan karakter. Nurhayati menyayangkan fenomena, di mana sebagian masyarakat merasa malu menggunakan bahasa daerah dan menganggapnya kolot.
“Padahal, bahasa daerah menyimpan sukma dan rasa kemanusiaan yang tidak ditemukan dalam bahasa lain, seperti konsep Siri’ (harga diri) yang menjadi harga mati bagi masyarakat Sulawesi Selatan,” ungkap dosen pengajar Unhas Makassar ini.
Ia mendorong adanya integrasi kurikulum muatan lokal yang lebih kreatif, seperti tugas mengarang cerita rakyat dalam bentuk konten digital. Hal ini diharapkan dapat membangkitkan kebanggaan jati diri anak bangsa sejak dini.
“Kurikulum harus menangkap kondisi budaya kita saat ini yang terus digerus oleh perkembangan prilaku budaya luar sehingga perlu adanya penguatan warisa Budaya kita,” tutupnya pada dialog bersama RRI. (RRI/Febriyan)