Ramadan Produktif, Dosen Unismuh Makassar Terbitkan Buku Kesehatan Digital
- 02 Mar 2026 22:37 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar — Ramadan kerap dimaknai sebagai jeda dari rutinitas yang padat, ketika ritme harian melambat dan ruang refleksi terasa lebih lapang. Namun bagi sebagian akademisi, bulan suci justru menjadi momentum produktif untuk merapikan gagasan dan melahirkan karya ilmiah. Suasana inilah yang mengiringi produktivitas Dito Anurogo, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Makassar, yang menerbitkan dua buku bertema kesehatan digital pada awal Ramadan 1447 Hijriah.
Dua buku tersebut berjudul Persiapan SDM Kesehatan dalam Transformasi Kesehatan Digital Nasional serta Metode dan Metodologi Riset Kesehatan Digital. Keduanya disusun secara kolaboratif bersama akademisi dari Universitas Airlangga. Menurut Dito, kerja sama lintas kampus ini bukan sekadar simbol sinergi kelembagaan, tetapi upaya menghadirkan panduan praktis agar transformasi digital di layanan kesehatan benar-benar berorientasi pada manusia, bukan semata teknologi.
Ia menegaskan, digitalisasi di sektor kesehatan tidak boleh berhenti pada penggantian kertas menjadi layar atau stempel menjadi tombol “submit”. Transformasi, kata dia, harus menyentuh cara berpikir, budaya kerja, serta pengambilan keputusan klinis. “Di layanan kesehatan, teknologi harus memperkuat keselamatan pasien dan memudahkan kerja klinisi. Kalau teknologi membuat alur kerja makin ruwet atau menurunkan kepercayaan, berarti ada yang perlu ditata ulang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin, 2 Maret 2026.
Buku pertama menempatkan sumber daya manusia sebagai pusat perubahan. Banyak program digital gagal bukan karena perangkat lunaknya buruk, melainkan karena tenaga kesehatannya belum siap. Literasi digital yang rendah, alur kerja yang belum disederhanakan, hingga lemahnya budaya keamanan data disebut sebagai hambatan utama. Karena itu, peningkatan kompetensi, pelatihan berkelanjutan, serta penanaman etika menjadi fondasi penting sebelum sistem digital diterapkan secara luas.
Selain itu, buku tersebut menyoroti pentingnya dokumentasi klinis yang rapi melalui rekam medis elektronik. Dokumentasi dipandang bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan instrumen keselamatan pasien. Catatan yang terstruktur membantu tenaga medis mengambil keputusan berbasis data, meminimalkan kesalahan, serta meningkatkan akuntabilitas melalui jejak audit, identitas digital, dan pengaturan akses yang ketat.
Sementara buku kedua mengulas pendekatan riset untuk memastikan inovasi digital benar-benar berdampak nyata. Dito memaparkan berbagai metode evaluasi, mulai dari uji klinis hingga studi pragmatis di lapangan. Ia juga menekankan tantangan khas data digital, seperti data hilang, berulang, atau bias, yang dapat memengaruhi kesimpulan penelitian jika tidak ditangani secara metodologis.
Pada pembahasan kecerdasan buatan dan machine learning, ia menekankan pentingnya keadilan algoritma, transparansi model, serta keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan. Model teknologi, katanya, harus dikelola layaknya layanan kesehatan itu sendiri—memiliki versi, evaluasi berkala, audit, hingga mekanisme perbaikan. “Model harus dikelola seperti layanan: ada versioning, rekalibrasi, rollback, dan pengawasan terus-menerus,” jelasnya.
Melalui dua buku tersebut, Dito ingin menegaskan bahwa masa depan kesehatan digital bukan ditentukan oleh aplikasi yang paling canggih atau populer, melainkan oleh sistem yang aman, etis, dan dapat dipercaya. Transformasi digital, pada akhirnya, adalah soal manusia, nilai, dan metode kerja. Teknologi hanyalah alat, sementara kualitas layanan tetap bergantung pada kesiapan tenaga kesehatan yang menggunakannya.