Riwayat Telepon Umum di Indonesia

  • 05 Mar 2026 12:28 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Dahulu, sebelum ponsel pintar mendominasi genggaman setiap orang, telepon umum adalah pahlawan komunikasi di ruang publik. Kotak ikonik berwarna biru atau kuning ini berdiri gagah di trotoar, halte bus, hingga pusat perbelanjaan. Bagi generasi 90-an, mengantre di depan box telepon adalah pemandangan biasa, di mana kesabaran diuji demi bisa mendengar suara orang terkasih atau sekadar memberi kabar kepada keluarga di rumah.

Dikutip dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) - Dokumentasi infrastruktur publik perkotaan tahun 1980-1990, Sistem pembayarannya pun sangat khas, yakni menggunakan koin pecahan Rp50 atau Rp100, serta kartu prabayar magnetik bagi mereka yang tidak ingin repot membawa uang receh. Suara denting koin yang jatuh ke dalam mesin dan bunyi "klik" saat sambungan terhubung memberikan sensasi mekanis yang tidak akan ditemukan pada layar sentuh masa kini.

Telepon umum bukan sekadar alat bicara, melainkan simbol kemandirian dan perjuangan untuk terhubung. Fungsi telepon umum pun sangat krusial di masa darurat.

Karena sifatnya yang statis dan terhubung langsung ke jaringan kabel PT Telkom, perangkat ini sering menjadi satu-satunya harapan saat seseorang tertinggal kendaraan atau butuh bantuan polisi. Tidak jarang, orang-orang menyimpan nomor telepon penting di dalam dompet mereka karena memori otak saat itu memang dilatih untuk menghafal deretan angka, bukan sekadar mencari nama di daftar kontak digital.

Namun, seiring meledaknya tren ponsel seluler dan internet di awal era 2000-an, keberadaan telepon umum mulai tersisih. Satu per satu kotak bicara ini mulai terbengkalai, penuh dengan coretan vandalisme, hingga akhirnya dicabut dari akarnya.

Perubahan gaya hidup yang menuntut kecepatan dan privasi membuat telepon umum yang terbuka dan statis dianggap tidak lagi efisien bagi masyarakat modern yang serba dinamis. Kini, meskipun fisiknya sudah jarang ditemukan, telepon umum tetap meninggalkan jejak sejarah yang mendalam dalam perkembangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Beberapa di antaranya bahkan masih dipertahankan sebagai monumen estetika atau properti film untuk membangkitkan nuansa retro. Telepon umum akan selalu dikenang sebagai saksi bisu perjalanan komunikasi manusia sebelum masuk ke era digital yang serba instan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita