Diet Soda Versus Zero Sugar, Mana Pilihan Lebih Sehat

  • 12 Mar 2026 08:34 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Minuman bersoda sering menjadi pilihan utama masyarakat untuk melepas dahaga, terutama saat cuaca panas melanda. Namun, kesadaran akan risiko kesehatan seperti obesitas dan serangan jantung membuat banyak orang mulai beralih ke varian diet soda atau zero sugar. Meskipun dianggap lebih aman karena rendah kalori, masyarakat perlu memahami perbedaan mendasar antara keduanya agar tidak terjebak dalam persepsi kesehatan yang keliru.

Melansir dari laman Very Well, baik diet soda maupun soda tanpa gula tidak mengandung gula tambahan yang secara langsung memengaruhi kadar gula darah. Secara umum, kedua jenis minuman ini tidak memiliki kandungan karbohidrat yang signifikan untuk memicu respons insulin pada tubuh manusia. Perbedaan paling mencolok justru terletak pada jenis bahan pemanis buatan yang digunakan untuk menciptakan rasa manis tanpa kalori tersebut.

Diet soda umumnya menggunakan aspartam, sebuah pemanis yang tingkat kemanisannya mencapai 200 kali lipat dibandingkan gula pasir biasa. Sementara itu, varian soda tanpa gula sering kali menggunakan kombinasi pemanis yang lebih modern seperti sukralosa, asesulfam kalium, hingga ekstrak alami seperti stevia. Penggunaan kombinasi ini bertujuan agar rasa yang dihasilkan lebih menyerupai soda reguler dibandingkan rasa khas yang ada pada diet soda.

Terkait dampaknya terhadap metabolisme, aspartam dan buah biksu (Lou Han Guo) diketahui tidak meningkatkan kadar glukosa darah atau hormon insulin secara signifikan. Di sisi lain, pemanis seperti sukralosa mungkin memiliki efek stimulasi insulin kecil pada individu tertentu, meski temuan penelitian masih beragam. Stevia justru sering dianggap netral dan beberapa studi menunjukkan adanya efek positif terhadap kontrol gula darah dalam jangka panjang.

Meskipun demikian, para ahli kesehatan tetap menyarankan sikap hati-hati dalam mengonsumsi pemanis buatan dalam jumlah besar setiap harinya. Beberapa penelitian terbaru menemukan adanya hubungan antara asupan aspartam dan sukralosa yang berlebihan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 seiring berjalannya waktu. Hal ini membuktikan bahwa label "tanpa gula" bukan berarti minuman tersebut dapat dikonsumsi tanpa batas tanpa adanya risiko kesehatan.

Dalam konteks pengelolaan berat badan, baik diet soda maupun soda tanpa gula tidak terbukti lebih efektif satu sama lain dalam menurunkan massa tubuh. Mengganti soda manis dengan kedua varian ini memang membantu mengurangi asupan kalori secara keseluruhan, namun tetap harus didukung pola makan sehat. Bagi sebagian orang, minuman ini membantu mengendalikan nafsu makan manis, tetapi bagi yang lain justru bisa memicu keinginan makan berlebih.

Kesimpulannya, memilih antara diet soda atau soda tanpa gula kembali pada preferensi rasa dan respons tubuh masing-masing individu secara spesifik.

Masyarakat diimbau untuk tetap menjadikan air putih sebagai sumber hidrasi utama guna menjaga kesehatan jantung dan metabolisme tetap optimal. Memahami label nutrisi dan jenis pemanis pada minuman kemasan adalah langkah bijak dalam menjaga kebugaran tubuh di tengah tren minuman bersoda.

Rekomendasi Berita