Keunikan Penggunaan IIII pada Angka 4 Jam Gadang

  • 18 Feb 2026 18:45 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Penulisan angka 4 sebagai IIII (empat I kapital) pada Jam Gadang bukanlah kesalahan, melainkan memiliki sejumlah alasan yang menarik. Dari segi estetika hingga mitologi, ada beberapa teori yang menjelaskan keunikan ini, terutama dalam konteks sejarah pembangunan Jam Gadang di Bukittinggi.

Berdasarkan informasi dari Cagar Budaya Kemendikbud Ristek, catatan sejarah mengenai pembangunan Jam Gadang yang dirancang oleh arsitek Yazid Rajo Mangkuto pada tahun 1926 menjelaskan penggunaan angka IIII sebagai pilihan yang disengaja, bukan angka Romawi IV yang umum digunakan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa angka III digunakan pada jam gadang bukan angka romawi IV pada umumnya.

1. Keseimbangan Visual (Aesthetic Balance)

Salah satu alasan utama penggunaan IIII adalah untuk menciptakan keseimbangan visual yang lebih baik pada wajah jam. Dalam dunia horologi (ilmu pembuatan jam), angka IIII memberikan keselarasan dengan angka VIII yang terletak di sisi berlawanan. Jika menggunakan IV, sisi kiri jam akan terlihat lebih "berat", mengganggu tampilan simetris jam tersebut. Penggunaan IIII memungkinkan pembagian angka yang lebih rapi dan simetris, dengan empat angka pertama menggunakan simbol I (I, II, III, IIII), empat angka berikutnya menggunakan V (V, VI, VII, VIII), dan empat angka terakhir menggunakan X (IX, X, XI, XII).

2. Kemudahan Pembacaan

Pada zaman dahulu, ketika tingkat literasi masih rendah, simbol IIII dianggap lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum dibandingkan dengan sistem pengurangan IV (5 dikurang 1). Menghitung empat garis berturut-turut (IIII) lebih intuitif dan mudah, sementara penggunaan IV bisa membingungkan bagi orang-orang yang tidak familiar dengan sistem angka Romawi.

3. Mitologi dan Tradisi Romawi Kuno

Bangsa Romawi kuno menghindari penggunaan IV pada jam dan alat pengukur waktu lainnya karena IV merupakan singkatan dari IVPITER, nama dewa tertinggi mereka, Jupiter. Dalam tradisi Romawi, menggunakan nama dewa pada benda-benda mekanis dianggap tidak sopan atau bisa mendatangkan nasib buruk. Untuk menghindari hal ini, para pembuat jam memilih menggunakan IIII sebagai pengganti IV.

4. Teknis Pembuatan Cetakan

Secara teknis, penggunaan IIII juga lebih memudahkan pembuat jam pada masa lalu. Cetakan angka Romawi untuk IIII lebih sederhana dan mudah diproduksi dibandingkan dengan IV. Pengrajin hanya memerlukan satu set cetakan untuk membuat angka I, V, dan X, yang membuat produksi jam menjadi lebih efisien, terutama pada masa-masa awal pembuatan jam.

5. Sejarah Pembangunan Jam Gadang

Salah satu contoh penggunaan IIII yang paling terkenal adalah pada Jam Gadang di Bukittinggi. Dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rookmaaker, Controleur (Sekretaris Kota) Fort de Kock (sekarang Bukittinggi), jam ini dirancang oleh arsitek asli Minangkabau, Yazid Rajo Mangkuto. Jam Gadang kini menjadi salah satu simbol penting di Indonesia, dan penggunaan angka IIII pada jam tersebut menambah nilai historis dari bangunan ikonik ini.

6. Standar Mesin Jerman

Jam Gadang menggunakan mesin jam yang dibuat oleh Bernhard Vortmann dari Jerman, di mana penulisan angka Romawi IIII merupakan standar tradisional dalam dunia horologi Eropa. Mesin-mesin ini dirancang untuk memastikan keseimbangan visual yang harmonis pada permukaan jam bundar, sesuai dengan prinsip desain yang telah diterapkan dalam pembuatan jam besar di Eropa pada masa itu.

Keunikan penggunaan IIII pada angka 4 tidak hanya terkait dengan alasan teknis atau estetika, tetapi juga mencerminkan tradisi panjang dalam dunia horologi dan budaya Romawi Kuno. Meskipun saat ini banyak jam yang menggunakan IV, penggunaan IIII tetap dipertahankan pada banyak jam bersejarah, seperti Jam Gadang, yang telah menjadi simbol penting di Indonesia. Dengan mempertahankan tradisi ini, Jam Gadang tidak hanya berfungsi sebagai alat penunjuk waktu, tetapi juga sebagai saksi sejarah dan budaya yang kaya.

Rekomendasi Berita