Jalan menuju Kebijaksanaan dan Jati Diri Bangsa
- 03 Mar 2026 16:47 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Prinsip Suwung Pamrih, Tebih Ajrih (Tanpa pamrih jauh dari rasa takut) menjadi bahasan utama dalam program Dialog Pesona Budaya Pro 1 RRI Malang, Senin malam (2/3/2026). Narasumber Eko Agus Susilo, S.Sos., M.Si, dosen dan pegiat budaya, mengupas relevansi filosofi Jawa tersebut dalam kehidupan modern.
Eko menjelaskan, suwung pamrih bukan berarti manusia tanpa tujuan, melainkan kemampuan mengelola motif dan ambisi agar tidak dikuasai ego. Sementara tebih ajrih dimaknai sebagai kondisi batin yang tidak diperbudak rasa takut berlebihan terhadap sesama manusia.
“Pamrih dan ajrih seperti dua kutub yang saling berkaitan. Ketika pamrih makin terkendali, rasa takut pun ikut mereda,” ujarnya.
Ia menegaskan, manusia memiliki hak dan kewajiban. Ambisi bukan sesuatu yang keliru, tetapi harus ditempatkan secara proporsional. Dalam konteks ini, ngudi kawicaksanan atau menempuh jalan kebijaksanaan hanya dapat dicapai ketika ego terkelola.
Dalam literasi sejarah Jawa, Eko menyinggung sosok R.M.P. Sosrokartono, kakak kandung R.A. Kartini. Sosrokartono dikenal sebagai intelektual Jawa dan poliglot yang dihormati banyak tokoh pada masanya, termasuk Soekarno.
Figur tersebut sering dijadikan contoh laku hidup yang menekankan pengendalian diri dan ketulusan. Menurut Eko, ketika seseorang mampu mengontrol nafsu secara proporsional dan bertindak tulus, perubahan tidak hanya terjadi pada dirinya, tetapi juga pada lingkungan sosialnya.
“Minimal akan tumbuh sikap sportif dan kejujuran dalam pergaulan,” katanya.
Refleksi ini juga dikaitkan dengan momentum puasa sebagai latihan menahan diri. Upaya mendekati suwung pamrih dinilai sudah merupakan langkah besar, meski dalam pandangan spiritual, kesuwungan yang sempurna diyakini hanya mampu diraih oleh pribadi-pribadi pilihan.
Lebih jauh, prinsip ini dinilai relevan dalam membangun masyarakat yang berorientasi pada memayu hayuning bawono, menjaga harmoni dan kebaikan dunia. Nilai etika seperti ini, menurut Eko, pernah menjadi fondasi peradaban besar Nusantara seperti Majapahit.
“Ini bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan pesan etika agar manusia memiliki jati diri, mampu mengelola ambisi, dan tidak diperbudak rasa takut,” pungkasnya.