Suara Budaya Nusantara Menghidupkan Kembali Budaya Menganyam

  • 05 Mar 2026 14:45 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Tradisi menganyam merupakan salah satu warisan budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat Indonesia. Kegiatan ini tidak hanya dikenal di Malang, tetapi juga tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi menganyam perlahan mulai ditinggalkan dan semakin jarang ditemui dalam kehidupan masyarakat.

Hal tersebut mendorong Pringga Aditya dan Lumina Dias melalui inisiatif Suara Budaya Nusantara untuk kembali mengangkat nilai budaya menganyam sebagai bagian dari identitas bangsa. Mereka melihat bahwa aktivitas yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat kini mulai redup karena perubahan gaya hidup dan perkembangan industri modern.

Pada masa lalu, menganyam merupakan keterampilan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Berbagai kebutuhan rumah tangga hingga perlengkapan lainnya banyak dibuat melalui teknik anyaman dari bahan-bahan alam. Bahkan dalam beberapa tradisi, unsur anyaman juga digunakan dalam berbagai bentuk pakaian maupun perlengkapan budaya.

Namun kini, banyak masyarakat yang mulai meninggalkan kegiatan tersebut. Selain dianggap rumit, proses menganyam membutuhkan ketelatenan dan waktu yang tidak sedikit. Di sisi lain, kebutuhan manusia modern yang semakin praktis membuat produk-produk berbahan anyaman perlahan tergantikan oleh barang pabrikan.

Padahal, menurut Pringga Aditya, menganyam memiliki nilai yang tinggi, tidak hanya dari sisi fungsi tetapi juga dari segi seni dan eksplorasi kreativitas.

“Budaya bisa redup karena kebutuhan ekonomi. Dahulu menganyam mulai ditinggalkan karena peminatnya sedikit, tetapi sekarang justru banyak orang kembali melihat nilai estetika dari anyaman,” ujarnya pada Dialog Jagongan UMKM, Kamis (5/3/2026).

Ia menambahkan bahwa saat ini dunia mulai kembali melirik produk-produk berbasis bahan alam, terutama yang ramah lingkungan. Kesadaran global terhadap penggunaan bahan yang dapat didaur ulang membuat kerajinan berbahan alam, termasuk anyaman, kembali memiliki nilai yang tinggi di pasar internasional.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dalam pengembangan kerajinan berbahan alam. Berbagai sumber daya alam yang tersedia dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai seni tinggi. Sayangnya, banyak bahan alam yang belum dibudidayakan secara optimal dan bahkan sering dianggap sebagai limbah.

“Kita melihat banyak sumber daya alam dari Indonesia yang justru dimanfaatkan oleh negara lain untuk dijadikan bahan anyaman dengan nilai jual tinggi. Padahal potensi itu juga ada di Indonesia,” jelasnya.

Saat ini, beberapa wilayah di Malang masih mempertahankan tradisi menganyam, seperti di daerah Wajak, Turen, dan Solokuro. Wilayah-wilayah tersebut menjadi contoh bahwa keterampilan menganyam masih hidup di tengah masyarakat, meskipun jumlah pengrajinnya semakin berkurang.

Di tingkat global, pasar produk berbahan alam sebenarnya cukup besar. Negara-negara seperti Vietnam, Filipina, dan Thailand bahkan telah lebih dahulu mengembangkan kerajinan berbasis bahan alam dan berhasil menguasai pasar internasional. Produk-produk dari negara tersebut banyak diminati karena mengusung konsep ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai estetika yang tinggi.

Pringga juga menilai bahwa kerajinan anyaman tidak hanya dilihat sebagai produk semata, tetapi juga sebagai karya seni yang memiliki nilai sejarah dan proses budaya di dalamnya. Hal ini terlihat dari minat masyarakat di beberapa negara Eropa yang sangat menghargai kerajinan berbasis anyaman.

“Banyak orang Eropa yang melihat anyaman bukan sekadar produk, tetapi sebagai karya seni yang memiliki sejarah dan proses panjang di dalamnya. Karena itu mereka jarang menawar harga, karena yang dilihat bukan hanya barangnya, tetapi juga nilai budayanya,” ungkapnya.

Proses menganyam sendiri membutuhkan keterampilan khusus yang tidak semua orang mampu melakukannya. Dibutuhkan ketelatenan, kesabaran, serta pemahaman terhadap teknik yang diwariskan secara turun-temurun.

“Mencari orang yang benar-benar ahli menganyam tidak mudah, karena ini adalah sebuah kebudayaan yang tidak semua orang bisa melakukannya,” tambahnya.

Lebih dari sekadar kerajinan, kegiatan menganyam juga memiliki nilai pembelajaran dalam kehidupan. Prosesnya yang panjang dan penuh ketelitian mengajarkan kesabaran serta ketekunan bagi siapa pun yang mempelajarinya.

“Bahwasanya menganyam itu mengajarkan kita tentang kesabaran, karena tidak ada yang instan dalam proses menganyam,” katanya.

Upaya menghidupkan kembali tradisi menganyam tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga sebagai bagian dari identitas bangsa. Dari Sabang hingga Merauke, masyarakat Indonesia pada masa lalu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan produk-produk berbahan anyaman.

Karena itu, Pringga dan Lumina berharap generasi muda dapat kembali mengenal dan mempelajari tradisi tersebut, sehingga kebudayaan menganyam tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Budaya menganyam adalah budaya kita. Menganyam sekarang bukan hanya sekadar kegiatan, tetapi juga bagian dari identitas bangsa Indonesia,” ujarnya. (Bintang)

Rekomendasi Berita