UB Kembangkan Teknologi Pakan Bebek untuk Tekan Biaya Produksi
- 02 Mar 2026 12:34 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan kontribusinya dalam penguatan ketahanan pangan nasional melalui inovasi teknologi pakan bebek berbasis hidrothermal dan hot air drying. Inovasi tersebut diterapkan pada CV Mitra Ruminansia Perkasa (MRP) di Desa Jatigono, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang.
Program ini bertujuan meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan biaya pakan pada budidaya bebek pedaging. Penerapan teknologi dilakukan melalui Program Doktor Mengabdi tahun 2025 yang melibatkan tim lintas disiplin dari UB.
Sejak 2024, CV MRP telah memproduksi pellet pakan bebek pedaging, namun masih menghadapi tantangan tingginya nilai Feed Conversion Ratio (FCR). Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya produksi dan menurunnya efisiensi usaha peternakan.
Tim UB yang dipimpin Dr. Abdul Manab, S.Pt., M.P. dari Fakultas Peternakan hadir memberikan solusi berbasis teknologi tepat guna. Program bertajuk pengembangan pellet pakan bebek ini difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi pakan.
Menurut Dr. Abdul Manab, inovasi ini diharapkan memberi dampak nyata bagi peternak dan industri pakan lokal. “Melalui kolaborasi lintas fakultas dan kemitraan dengan industri, kami ingin menunjukkan inovasi perguruan tinggi dapat diimplementasikan nyata dan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas serta kesejahteraan masyarakat peternak,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin, yakni Dr. Premy Puspitawati Rahayu, S.Pt., M.P. (Fakultas Peternakan), Dr. Rachman Hartono, S.P., M.P. (Fakultas Pertanian), serta Yusron Sugiarto, S.TP., M.P., M.Sc., Ph.D. (Fakultas Teknologi Pertanian). Sinergi keilmuan tersebut mengintegrasikan aspek nutrisi ternak, agribisnis, serta rekayasa proses pengolahan pakan.
Teknologi hidrothermal bekerja dengan memanfaatkan kombinasi panas dan tekanan untuk memperbaiki struktur fisik bahan pakan. "Metode ini membantu meminimalkan kehilangan nutrisi sekaligus meningkatkan daya cerna pakan unggas," katanya.

Sementara itu, metode hot air drying digunakan untuk mengoptimalkan proses pengeringan pellet agar kadar air tetap stabil. Proses pengeringan merata ini mampu menekan pertumbuhan mikroba dan menjaga kualitas nutrisi pakan.

Penerapan kedua teknologi tersebut ditargetkan mampu menurunkan nilai FCR dari 2,5 menjadi 1,9. Selain itu, program ini juga menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga mencapai 1 ton pakan per hari.
Tim pengabdian juga memberikan pelatihan teknis kepada formulator pakan dan peternak melalui demonstrasi lapang. Transfer teknologi dilakukan dengan penyediaan mesin produksi berkapasitas 1 kuintal setiap proses.
Program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, meliputi ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, produksi bertanggung jawab, dan kemitraan. Melalui Program Doktor Mengabdi, Universitas Brawijaya menegaskan komitmennya menghadirkan inovasi riset berdampak nyata bagi ekonomi daerah dan ketahanan pangan nasional.