Hasilkan Karya Ilmiah Berpengaruh, Delapan Dosen Unisma Raih Penghargaan LPTNU
- 11 Mar 2026 21:11 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Delapan dosen Universitas Islam Malang (Unisma) meraih penghargaan dari Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) atas kontribusi karya ilmiah yang dinilai berpengaruh di berbagai bidang keilmuan.
Rektor Unisma, Prof. Junaidi menjelaskan bahwa penghargaan tersebut diberikan kepada dosen di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di seluruh Indonesia yang memiliki kontribusi akademik signifikan.
“Pada kategori ini, dosen Unisma ada delapan orang yang mendapatkan penghargaan di berbagai bidang keilmuan,” kata Prof. Junaidi, Rabu (11/3/2026).
Ia merinci, pada bidang agroteknologi, dua dosen Unisma berhasil menempati posisi teratas. Prof. Agus Sugianto meraih peringkat pertama, sementara Prof. Novi Arfarita menempati peringkat kedua.
Pada bidang ilmu sosial, Dr. Hayat meraih posisi pertama secara nasional. Sementara di bidang ilmu alam dan kehidupan, Prof. Nour Athiroh juga berhasil meraih peringkat pertama.
Selain itu, penghargaan juga diraih oleh Dr. Sri Wahyuni pada bidang pendidikan dan Dr. Yudi Purnomo pada bidang kedokteran dan kesehatan, yang masing-masing menempati peringkat ketiga.
Pada bidang teknik, Dr. Eko Noerhayati meraih peringkat kedua. Sementara pada kategori cendekiawan ilmu agama dengan capaian karya ilmiah di bidang fikih, Dr. Shofiatul Jannah menempati posisi ketiga.
Prof. Junaidi menjelaskan bahwa proses penilaian penghargaan tersebut melalui beberapa tahapan. Panitia terlebih dahulu mengumpulkan data nominasi berdasarkan rekam jejak publikasi ilmiah yang terindeks dalam sistem SINTA.
“Dari proses tersebut terkumpul sekitar 545 dosen yang kemudian masuk dalam daftar awal. Setelah itu dilakukan proses verifikasi administratif untuk memastikan bahwa peserta merupakan dosen aktif di perguruan tinggi Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
“Tahapan berikutnya adalah penilaian substantif yang mencakup dampak akademik dan ilmiah dari karya-karya yang dihasilkan, kontribusi terhadap masyarakat dan umat, serta relevansi terhadap pengembangan pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.
Menurut Junaidi, penghargaan ini menjadi momentum penting bagi Unisma dalam memperkuat posisinya di antara perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Indonesia.
“Ini menjadi penguatan posisi Unisma di antara perguruan tinggi NU. Namun tentu saja penghargaan ini juga membawa tanggung jawab sosial agar keunggulan akademik yang dimiliki dapat memberi dampak lebih luas bagi masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pemberian penghargaan oleh LPTNU ini merupakan yang pertama kali dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap sivitas akademika di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia.
Rektor Unisma, Prof. Junaidi menjelaskan bahwa penghargaan tersebut diberikan kepada dosen di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di seluruh Indonesia yang memiliki kontribusi akademik signifikan.
“Pada kategori ini, dosen Unisma ada delapan orang yang mendapatkan penghargaan di berbagai bidang keilmuan,” kata Prof. Junaidi, Rabu (11/3/2026).
Ia merinci, pada bidang agroteknologi, dua dosen Unisma berhasil menempati posisi teratas. Prof. Agus Sugianto meraih peringkat pertama, sementara Prof. Novi Arfarita menempati peringkat kedua.
Pada bidang ilmu sosial, Dr. Hayat meraih posisi pertama secara nasional. Sementara di bidang ilmu alam dan kehidupan, Prof. Nour Athiroh juga berhasil meraih peringkat pertama.
Selain itu, penghargaan juga diraih oleh Dr. Sri Wahyuni pada bidang pendidikan dan Dr. Yudi Purnomo pada bidang kedokteran dan kesehatan, yang masing-masing menempati peringkat ketiga.
Pada bidang teknik, Dr. Eko Noerhayati meraih peringkat kedua. Sementara pada kategori cendekiawan ilmu agama dengan capaian karya ilmiah di bidang fikih, Dr. Shofiatul Jannah menempati posisi ketiga.
Prof. Junaidi menjelaskan bahwa proses penilaian penghargaan tersebut melalui beberapa tahapan. Panitia terlebih dahulu mengumpulkan data nominasi berdasarkan rekam jejak publikasi ilmiah yang terindeks dalam sistem SINTA.
“Dari proses tersebut terkumpul sekitar 545 dosen yang kemudian masuk dalam daftar awal. Setelah itu dilakukan proses verifikasi administratif untuk memastikan bahwa peserta merupakan dosen aktif di perguruan tinggi Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
“Tahapan berikutnya adalah penilaian substantif yang mencakup dampak akademik dan ilmiah dari karya-karya yang dihasilkan, kontribusi terhadap masyarakat dan umat, serta relevansi terhadap pengembangan pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.
Menurut Junaidi, penghargaan ini menjadi momentum penting bagi Unisma dalam memperkuat posisinya di antara perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Indonesia.
“Ini menjadi penguatan posisi Unisma di antara perguruan tinggi NU. Namun tentu saja penghargaan ini juga membawa tanggung jawab sosial agar keunggulan akademik yang dimiliki dapat memberi dampak lebih luas bagi masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pemberian penghargaan oleh LPTNU ini merupakan yang pertama kali dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap sivitas akademika di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia.