Wamenpar Dorong Sinergi Teknologi dan SDM dalam Pengembangan Pariwisata
- 12 Mar 2026 12:05 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa menekankan pentingnya sinergi teknologi digital, penguatan sumber daya manusia (SDM), dan transformasi kebijakan dalam membangun sektor pariwisata yang cerdas dan berkelanjutan di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan dalam kuliah tamu bertema Smart and Sustainable Hospitality: Sinergi Teknologi Digital, Penguatan SDM, dan Transformasi Kebijakan Pariwisata Indonesia yang digelar oleh Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Perhotelan, Departemen Sains dan Hospitality Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya di Gedung Gedung Widyaloka UB, Kamis (12/3/2026).
Hal tersebut disampaikan dalam kuliah tamu bertema Smart and Sustainable Hospitality: Sinergi Teknologi Digital, Penguatan SDM, dan Transformasi Kebijakan Pariwisata Indonesia yang digelar oleh Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Perhotelan, Departemen Sains dan Hospitality Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya di Gedung Gedung Widyaloka UB, Kamis (12/3/2026).
Dalam paparannya, Ni Luh Puspa menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah mengubah cara masyarakat mencari informasi dan merencanakan perjalanan wisata. Meski demikian, ia menilai teknologi tidak dapat menggantikan peran manusia dalam menciptakan pengalaman wisata yang berkesan.
“Teknologi mungkin memudahkan banyak hal, tetapi manusia yang membuat orang ingin kembali. Dalam pariwisata ada tiga hal penting, yaitu service, hospitality, dan experience,” ujarnya di hadapan mahasiswa dan pelaku industri pariwisata.
Ia menjelaskan, service berkaitan dengan bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan, sementara hospitality’adalah cara memberikan pelayanan dengan sikap dan empati.
“Teknologi mungkin memudahkan banyak hal, tetapi manusia yang membuat orang ingin kembali. Dalam pariwisata ada tiga hal penting, yaitu service, hospitality, dan experience,” ujarnya di hadapan mahasiswa dan pelaku industri pariwisata.
Ia menjelaskan, service berkaitan dengan bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan, sementara hospitality’adalah cara memberikan pelayanan dengan sikap dan empati.
“Adapun experience menjadi faktor utama yang menentukan apakah wisatawan akan kembali berkunjung,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu raksasa industri pariwisata dunia apabila mampu menyiapkan SDM yang unggul di bidang hospitality.
“Kalau wisatawan selalu disambut dengan tangan terbuka dan hati yang terbuka, seharusnya Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan besar dalam industri pariwisata dunia,” katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UB bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, Prof. Andi Kurniawan menyampaikan bahwa sektor pariwisata memiliki hubungan erat dengan berbagai sektor lain, termasuk pendidikan tinggi.
Ia mengungkapkan bahwa hasil survei internal menunjukkan lebih dari 30 persen mahasiswa UB berasal dari wilayah Jabodetabek dan banyak di antaranya memilih kuliah di UB karena daya tarik Kota Malang sebagai destinasi pendidikan dan wisata.
“Ini menunjukkan bagaimana sektor pariwisata dapat mendorong pertumbuhan sektor lain, termasuk pendidikan,” ujarnya.
Andi menambahkan bahwa pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dalam sebuah ekosistem yang saling terhubung. Dunia pariwisata saat ini juga dihadapkan pada tiga transformasi utama, yakni transformasi digital, penguatan SDM, serta keberlanjutan atau sustainability.
“Wisata global tidak lagi hanya berbicara tentang keindahan, tetapi juga bagaimana keindahan tersebut mampu mendukung keberlanjutan dan menghormati budaya lokal,” katanya.
Melalui kuliah tamu ini, UB berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam mengembangkan sektor pariwisata nasional.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu raksasa industri pariwisata dunia apabila mampu menyiapkan SDM yang unggul di bidang hospitality.
“Kalau wisatawan selalu disambut dengan tangan terbuka dan hati yang terbuka, seharusnya Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan besar dalam industri pariwisata dunia,” katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UB bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, Prof. Andi Kurniawan menyampaikan bahwa sektor pariwisata memiliki hubungan erat dengan berbagai sektor lain, termasuk pendidikan tinggi.
Ia mengungkapkan bahwa hasil survei internal menunjukkan lebih dari 30 persen mahasiswa UB berasal dari wilayah Jabodetabek dan banyak di antaranya memilih kuliah di UB karena daya tarik Kota Malang sebagai destinasi pendidikan dan wisata.
“Ini menunjukkan bagaimana sektor pariwisata dapat mendorong pertumbuhan sektor lain, termasuk pendidikan,” ujarnya.
Andi menambahkan bahwa pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dalam sebuah ekosistem yang saling terhubung. Dunia pariwisata saat ini juga dihadapkan pada tiga transformasi utama, yakni transformasi digital, penguatan SDM, serta keberlanjutan atau sustainability.
“Wisata global tidak lagi hanya berbicara tentang keindahan, tetapi juga bagaimana keindahan tersebut mampu mendukung keberlanjutan dan menghormati budaya lokal,” katanya.
Melalui kuliah tamu ini, UB berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam mengembangkan sektor pariwisata nasional.