Rangai, Kue Khas Suku Tidung Histori Masa Lampau

  • 03 Nov 2025 17:03 WIB
  •  Malinau

KBRN, Malinau : Bagi penduduk di luar wilayah Kalimantan Utara (Kaltara), nama kue tradisional yang satu ini mungkin masih terdengar asing. Ya, Rangai adalah kue khas yang sejak dahulu kala hingga kini rutin dikonsumsi oleh masyarakat suku Tidung, menjadikannya salah satu warisan kuliner yang tak lekang oleh waktu.

Rangai dikenal sebagai panganan yang sepenuhnya terbuat dari bahan alami dan tanpa pengawet. Bahan pokoknya sangat sederhana, yaitu terdiri dari tepung beras, gula pasir, dan kelapa parut. Proses pengolahannya yang cukup bersahaja menghasilkan kue yang tidak hanya memiliki cita rasa pas di lidah, tetapi juga memiliki daya tahan yang lama.

Salah seorang warga Malinau dari suku Tidung, Ibu Maisarah, menceritakan histori penting di balik ketahanan kue ini. Ia menuturkan bahwa pada zaman dahulu, kue Rangai berperan vital sebagai bekal makanan tahan lama bagi para petani dan pemburu yang harus meninggalkan rumah dan bekerja di luar selama berhari-hari.

Kebutuhan akan makanan yang tidak mudah basi untuk menahan lapar menjadikan kue Rangai sebagai alternatif camilan yang sangat membantu para pekerja tersebut. Hal ini tak lepas dari bahan bakunya yang utama, yakni beras yang ditumbuk halus menjadi tepung, kemudian diolah bersama bahan lain, dicetak, dan biasa dibentuk menyerupai bunga atau bentuk lainnya.

Meskipun sederhana, daya tahan dan rasa gurih manis kue Rangai menjadikannya pilihan praktis. Saat ini, kue Rangai telah bertransformasi menjadi camilan favorit masyarakat, khususnya suku Tidung, untuk dinikmati pada pagi hari sebelum berangkat kerja atau sore hari, ditemani dengan segelas kopi atau teh hangat.

Walaupun kepopuleran beberapa kue modern semakin menjamur, kue Rangai masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Keberadaannya mungkin semakin jarang dijumpai secara umum saat ini, namun kue ini tetap menjadi simbol yang sarat akan sejarah.

Oleh karena itu, masyarakat, khususnya suku Tidung, bertekad untuk tidak melupakan Rangai karena panganan ini membawa histori masa lampau dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka di Malinau.

Rekomendasi Berita