Long Alango, Destinasi Wisata Bernuansa Alam dan Budaya
- 11 Des 2025 15:56 WIB
- Malinau
KBRN, Malinau: Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, dikenal sebagai salah satu desa wisata yang menawarkan suasana alam asri serta kehidupan masyarakat Dayak Kenyah Lepu Ma’ut yang masih memegang kuat tradisi leluhur.
Desa ini memiliki sejarah panjang yang berawal dari perpindahan penduduk dari Desa Long Kemuat pada tahun 1943 ketika tokoh adat Apui Njau mengajak warga membuka ladang di wilayah Sungai Lango karena keterbatasan lahan persawahan di Long Kemuat.
Lahan yang luas dan cocok untuk digarap membuat semakin banyak warga tertarik mengikuti langkah tersebut. Mereka kemudian membangun pondok di kuala Sungai Lango sebagai tempat tinggal sementara sekaligus tempat menyimpan hasil panen.
Seiring waktu, jumlah warga yang datang semakin bertambah. Pada tahun 1953, masyarakat mulai menetap dan mendirikan beberapa rumah panjang sebagai hunian tetap.
Wilayah ini awalnya dikenal sebagai “Long Langau”, berasal dari kata langau (lalat) karena pada masa lampau kuala Sungai Lango merupakan lokasi terjadinya pertumpahan darah sehingga banyak lalat mengerumuni. Penyebutannya kemudian berubah menjadi “Long Alango”.
Pada tahun 1957, populasi yang kian bertambah membuat wilayah ini ditetapkan menjadi sebuah desa, di mana Udau Lian sebagai Kepala Desa pertama. Saat ini Long Alango memiliki luas 21.667,52 hektare atau 216,67 km².
Sebagai destinasi wisata, Long Alango menawarkan pengalaman menikmati keindahan alam, edukasi pertanian, seni budaya Dayak Kenyah, arung jeram, hingga jelajah hutan.