Lari di Bawah Bayang Pace Strava
- 30 Jan 2026 09:37 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Lari yang selama ini dikenal sebagai olahraga sederhana untuk menjaga kebugaran kini mengalami pergeseran makna di era digital. Aktivitas ini tak lagi sekadar soal bergerak dan bertahan, tetapi juga soal bagaimana hasilnya ditampilkan.
Teknologi membuat lari menjadi bagian dari ruang sosial yang dinilai dan dibandingkan. Salah satu istilah yang kini sering disorot adalah pace.
Pace merupakan waktu tempuh pelari untuk setiap satu kilometer, yang biasanya dinyatakan dalam menit per kilometer. Angka pace yang kecil sering dianggap sebagai indikator lari yang “bagus” atau layak dibagikan.
Aplikasi Strava menjadi salah satu platform yang memperkuat fenomena tersebut. Aplikasi ini merekam aktivitas lari menggunakan GPS dan menampilkan data seperti jarak, durasi, dan pace.
Data tersebut dapat dibagikan ke komunitas maupun media sosial secara terbuka.
Dalam praktiknya, muncul tekanan sosial di kalangan pelari untuk menampilkan pace tertentu. Banyak pelari merasa hasil lari harus terlihat cepat agar pantas diunggah dan mendapat perhatian. Lari pun bergeser dari kebutuhan tubuh menjadi bagian dari pencitraan digital.
Kondisi ini mendorong sebagian pelari memaksakan kecepatan tanpa mempertimbangkan kemampuan fisik masing-masing.
Perbedaan usia, pengalaman, dan kondisi tubuh sering kali diabaikan. Fokus berlebihan pada pace membuat proses lari kehilangan konteks personalnya.
Dampak setelah lari juga kerap luput dari perhatian. Kelelahan berlebih, nyeri otot, hingga rasa tidak nyaman dianggap sebagai konsekuensi wajar demi hasil yang terlihat baik. Padahal tubuh memerlukan waktu pemulihan agar tetap sehat dan berfungsi optimal.
Di berbagai ruang diskusi lari, perbincangan soal pace sering lebih dominan dibandingkan konsistensi dan kenyamanan berlari. Daya tahan yang dibangun perlahan justru kalah oleh tuntutan angka.
Lari yang seharusnya inklusif berpotensi menjadi eksklusif bagi mereka yang cepat.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa teknologi sebaiknya berfungsi sebagai alat bantu, bukan penentu nilai diri. Pace dan Strava idealnya digunakan untuk memahami progres pribadi, bukan untuk saling membandingkan.
Pada akhirnya, lari tetap tentang mendengarkan tubuh, bukan sekadar mengejar konten.