BRIN Kembangkan Glutation dari Limbah Bioetanol Nasional
- 28 Feb 2026 12:32 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan produk glutation hasil ekstraksi limbah biomassa yeast industri bioetanol dalam ajang Temu Bisnis Biosains Terapan 2026 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026. Inovasi ini membuka peluang besar pemanfaatan limbah industri menjadi produk bernilai tinggi.
Peneliti Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Farida Rahayu, menjelaskan bahwa glutation dikenal sebagai “master antioksidan” yang secara alami diproduksi dalam tubuh manusia, hewan, dan mikroorganisme. Senyawa ini tersusun dari tiga asam amino, yakni asam glutamat, sistein, dan glisin.
“Glutation memang dikenal sebagai master antioksidan. Senyawa ini diproduksi oleh tubuh manusia, hewan, dan juga mikroorganisme,” ujar Farida.
Ia menjelaskan, glutation berfungsi melindungi sel dari radikal bebas, membantu proses detoksifikasi hati, memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan otak dan jantung, serta mengurangi peradangan. Namun, produksi glutation alami dalam tubuh akan menurun setelah usia 25 tahun, sehingga diperlukan asupan dari luar.
Secara global, produksi glutation murni mencapai lebih dari 200 ton per tahun dengan harga sekitar 300 dolar AS per kilogram. Permintaan pasar diperkirakan terus meningkat hingga 2027 seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
Farida menekankan, Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksi glutation secara mandiri melalui pemanfaatan limbah yeast dari industri bioetanol. Limbah tersebut ternyata sudah mengandung glutation, sehingga hanya perlu diekstraksi.
“Limbah yeast ternyata sudah memproduksi glutation. Jadi kita tinggal mengekstraksinya saja,” jelasnya.
Dalam proses riset, tim melakukan pemisahan sel yeast dari limbah melalui pengenceran dan sentrifugasi bertahap. Tantangan utama saat ini adalah menemukan metode pemisahan yang paling optimal agar proses produksi lebih efisien.
Produksi glutation dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni ekstraksi sel, rekayasa media, dan rekayasa genetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode biologis berbasis enzim menghasilkan kadar glutation tertinggi, mencapai 40 mg/L, lebih tinggi dibandingkan beberapa riset sebelumnya.
Melalui rekayasa media dengan modulasi prekursor asam amino, konsentrasi glutation bahkan dapat ditingkatkan hingga 95 mg/L. Ke depan, BRIN menargetkan pengembangan yeast rekombinan yang mampu memproduksi bioetanol dan glutation secara bersamaan dalam satu bioreaktor.
“Dengan rekayasa genetik, kami ingin memadukan kemampuan yeast memproduksi etanol dan glutation tinggi dalam satu sistem bioreaktor,” kata Farida.
Selain menghasilkan glutation, residu sel yeast juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak, biofertilizer, dan agen bioremediasi, sehingga mendukung konsep ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah berkelanjutan.
Sebagian hasil riset ini telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi. Meski belum didaftarkan paten, BRIN berharap inovasi ini dapat segera dikembangkan oleh industri nasional.