BRIN Dorong Hilirisasi Atsiri lewat Parfum Nusantara

  • 28 Feb 2026 12:46 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menghadirkan inovasi parfum berbasis tanaman asli Nusantara, mulai dari parfum kemenyan, kapur barus, hingga cengkeh, yang bernilai tinggi di pasar global.

Terobosan ini menjadi langkah strategis mengubah citra Indonesia dari sekadar eksportir bahan mentah minyak atsiri menjadi produsen produk turunan bernilai tambah tinggi.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan (PRBT) BRIN, Aswandi, menjelaskan bahwa selama ini Indonesia mengekspor sekitar 5–8 ton kemenyan mentah per tahun dengan nilai triliunan rupiah untuk kemudian diolah oleh industri luar negeri. Padahal, jika diolah di dalam negeri, kemenyan dapat menghasilkan produk parfum mewah dengan nilai jual jauh lebih tinggi.

“Parfum kemenyan di Paris minimal dijual sekitar Rp5 juta. Padahal, dengan bahan baku sekitar Rp200 ribu, kita bisa menghasilkan produk bernilai jutaan rupiah,” ujar Aswandi dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (26/2).

Menurutnya, tanaman yang selama ini dianggap mistis, seperti kemenyan dan kapur barus, justru menjadi komoditas unggulan industri parfum dan kosmetik global, terutama di Prancis dan Eropa. BRIN bahkan telah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra internasional untuk pengembangan produk berbasis atsiri Nusantara.

Inovasi parfum kemenyan hasil riset BRIN yang telah dipatenkan mengandung senyawa kompleks seperti Bornyl acetate yang menghasilkan aroma kayu pedas serta Linalool yang memberi sentuhan aroma bunga dan jeruk. Kombinasi ini menciptakan parfum dengan karakter kuat, tahan lama, dan memiliki manfaat aromaterapi.

Selain kemenyan, BRIN juga mengembangkan “Kafura Perfumes” berbasis resin pohon kapur (Dryobalanops aromatica). Pada masa lalu, satu gram kapur barus alami bahkan memiliki nilai setara emas. Hingga kini, harga kristal kapur alami bisa mencapai Rp100 juta per kilogram, menjadikannya salah satu komoditas atsiri termahal.

“Permintaan dari industri parfum Paris bisa mencapai 200 ribu ton per tahun. Namun, tantangan kita adalah ketersediaan bahan baku akibat kerusakan hutan. Karena itu, riset ini juga dibarengi upaya konservasi pohon kapur di Sumatra Utara,” tegas Aswandi.

Tak hanya itu, PRBT BRIN juga memperkenalkan “Parfum Clowee” berbasis cengkeh. Hasil riset menunjukkan bahwa aroma cengkeh Indonesia memiliki karakter berbeda di setiap daerah, mulai dari Maluku, Manado, hingga Sumatra, sehingga memberikan keunikan tersendiri bagi produk parfum.

Di sektor rumah tangga dan kesehatan, BRIN mengembangkan reed diffuser alami sebagai alternatif pewangi ruangan berbahan sintetis. Produk ini dinilai lebih aman karena tidak meninggalkan residu kimia berbahaya bagi tubuh.

Sementara di bidang kecantikan, BRIN memproduksi serum dan krim wajah berbasis nano-emulsi dari minyak kemenyan dan nilam. Produk ini dirancang untuk meningkatkan hidrasi kulit, memperbaiki struktur kulit, dan memberikan efek glowing secara alami.

Kepala PRBT BRIN, Muhammad Imam Surya, menegaskan bahwa kualitas bahan alam Indonesia tidak kalah bahkan lebih unggul dibandingkan bahan impor. Ia mendorong masyarakat dan industri untuk lebih bangga menggunakan produk lokal.

“Kita tidak perlu terlalu bangga dengan parfum Paris atau Italia. Produk asli Indonesia justru sangat diminati pasar global dan memiliki kualitas unggul,” ujarnya.

Saat ini, sekitar 80 persen bahan baku kosmetik di Indonesia masih diimpor, meskipun sebagian besar sumber bahan mentahnya berasal dari dalam negeri. Melalui inovasi ini, BRIN berharap Indonesia mampu memperkuat industri hilirisasi, kemandirian bahan baku, serta daya saing produk lokal di pasar internasional.

Rekomendasi Berita