Kurang Olahraga, Ancaman Gaya Hidup Sedentari bagi Kesehatan

  • 10 Mar 2026 21:17 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Gaya hidup yang kurang aktif kini semakin banyak dijumpai di masyarakat, terutama pada kalangan pekerja yang memiliki aktivitas padat. Kebiasaan duduk terlalu lama, jarang bergerak, serta minimnya aktivitas fisik dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti postur tubuh yang buruk, otot yang tegang, hingga persendian yang lemah. Kondisi tersebut sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman pada tubuh.

Dikutip dari laman resmi polri.go.id selain mengonsumsi makanan bergizi dan mendapatkan waktu tidur yang cukup, olahraga merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan agar tubuh tetap sehat dan bugar. Namun, tidak sedikit orang yang mengaku kesulitan meluangkan waktu untuk berolahraga secara rutin karena kesibukan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari.

Kurangnya aktivitas fisik dapat memicu munculnya gaya hidup sedentari. Gaya hidup sedentari merupakan pola hidup yang mengacu pada berbagai aktivitas yang dilakukan di luar waktu tidur, namun dengan pengeluaran kalori yang sangat sedikit. Contohnya adalah duduk dalam waktu lama, bekerja di depan komputer, menonton televisi, atau menggunakan gawai tanpa disertai aktivitas fisik yang cukup.

Pola hidup seperti ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Beberapa penyakit yang sering dikaitkan dengan gaya hidup sedentari antara lain penyakit jantung, diabetes, obesitas, kanker usus besar, tekanan darah tinggi atau hipertensi, osteoporosis, serta gangguan lipid dalam tubuh. Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, gaya hidup sedentari juga berpotensi memicu gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Seseorang yang jarang atau bahkan tidak pernah berolahraga biasanya akan merasakan sejumlah tanda atau gejala tertentu dari tubuh. Gejala tersebut sering kali menjadi sinyal bahwa tubuh membutuhkan aktivitas fisik yang lebih banyak.

Salah satu tanda yang sering muncul adalah menurunnya kemampuan fokus. Kehilangan fokus saat menjalankan aktivitas sehari-hari dapat terjadi apabila seseorang tidak rutin berolahraga. Padahal, olahraga diketahui mampu meningkatkan kemampuan belajar dan konsentrasi. Latihan aerobik, misalnya, dapat membantu meningkatkan kinerja otak sehingga seseorang menjadi lebih waspada, memiliki perhatian yang lebih baik, serta lebih mudah menyerap informasi baru.

Tanda lainnya adalah kualitas tidur yang buruk. Kurangnya aktivitas fisik pada siang hari dapat menyebabkan seseorang sulit tidur atau mengalami tidur yang tidak nyenyak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi tidur. Ketika seseorang berolahraga pada siang hari, kualitas tidur malamnya cenderung menjadi lebih baik dan waktu tidur nyenyak pun meningkat.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi juga dapat menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan olahraga. Kondisi ini merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung. Semakin tinggi tekanan darah seseorang dan semakin lama kondisi tersebut tidak terkontrol, maka risiko kerusakan pada organ tubuh juga akan semakin besar. Salah satu cara yang efektif untuk membantu mengendalikan tekanan darah adalah dengan melakukan olahraga secara rutin. Aktivitas fisik dapat membantu memperkuat jantung dan menurunkan tekanan darah sistolik, yaitu angka teratas dalam hasil pengukuran tekanan darah. Dengan meluangkan waktu sekitar 30 menit setiap hari untuk berolahraga, seseorang bahkan dapat membantu menurunkan tekanan darah secara alami.

Selain itu, nyeri pada punggung bawah atau lower back pain juga sering menjadi tanda kurangnya aktivitas fisik. Kondisi ini banyak dialami oleh pekerja kantoran yang menghabiskan sebagian besar waktunya duduk di depan meja kerja. Dalam banyak kasus, nyeri punggung bawah disebabkan oleh otot yang lemah akibat kurang bergerak. Olahraga dapat membantu memperkuat otot-otot tubuh, terutama otot yang menopang tulang belakang, sehingga tubuh lebih kuat saat berdiri, duduk, maupun bergerak.

Tanda lain yang mungkin muncul adalah meningkatnya rasa lapar. Secara umum, seseorang yang tidak banyak melakukan aktivitas fisik seharusnya tidak membutuhkan asupan makanan dalam jumlah besar. Namun pada kenyataannya, kurang olahraga justru dapat meningkatkan nafsu makan. Hal ini berkaitan dengan produksi hormon ghrelin yang berfungsi memicu rasa lapar. Ketika tubuh jarang bergerak, hormon tersebut dapat meningkat sehingga seseorang lebih sering merasa lapar. Sebaliknya, olahraga secara teratur dapat membantu menurunkan respons hormon ghrelin sehingga nafsu makan menjadi lebih terkontrol.

Tubuh manusia pada dasarnya dirancang untuk bergerak dan melakukan berbagai aktivitas. Jika tubuh tidak digunakan secara optimal melalui latihan atau olahraga, maka tubuh akan memberikan sinyal tertentu sebagai bentuk “alarm”. Salah satu sinyal yang sering disalahartikan adalah rasa lelah.

Banyak orang mengira kelelahan hanya disebabkan oleh kurangnya waktu istirahat. Padahal, rasa lelah juga dapat menjadi tanda bahwa tubuh kurang mendapatkan aktivitas fisik. Kurangnya gerakan dapat membuat tubuh terasa lebih lemas dan tidak bertenaga.

Tubuh manusia merupakan sistem yang sangat kompleks dan saling terhubung. Sistem ini bekerja secara otomatis mengikuti ritme sirkadian, yaitu sistem biologis yang mengatur berbagai fungsi tubuh agar dapat bekerja secara optimal sepanjang hari. Dengan menjaga pola hidup sehat, termasuk rutin berolahraga, sistem tersebut dapat berfungsi dengan lebih baik.

Setiap orang meluangkan waktu setidaknya 30 menit setiap hari untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga. Selain menjaga kebugaran tubuh, olahraga juga dapat membantu menyegarkan pikiran, mengurangi stres, serta meningkatkan suasana hati menjadi lebih positif. Dengan demikian, menjaga tubuh tetap aktif melalui olahraga rutin merupakan langkah penting untuk mencegah berbagai penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Rekomendasi Berita