Ini Makanan yang Diduga Menjadi “Favorit” Sel Kanker

  • 14 Mar 2026 13:55 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID,Manado -Banyak penelitian di bidang kesehatan menunjukkan bahwa pola makan dapat mempengaruhi perkembangan berbagai penyakit, termasuk kanker. Meskipun tidak ada makanan yang secara langsung “memberi makan” kanker secara spesifik, beberapa jenis makanan diketahui dapat mendukung pertumbuhan sel kanker jika dikonsumsi berlebihan dan dalam jangka panjang.

Dikutip dari laman siloamhospitals.com, Salah satu cara menurunkan risiko kanker adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat, termasuk mengatur pola makan. Dalam mengatur pola makan, perhatikan jenis makanan yang berisiko memicu kanker dan perlu dihindari. Berikut masing-masing penjelasan tentang makanan pemicu kanker.

Berikut beberapa jenis makanan yang sering dikaitkan dengan peningkatan risiko pertumbuhan sel kanker:

1.Daging merah dan daging olahan

Sebuah meta-analisis dari 27 studi menunjukkan bahwa konsumsi daging merah (seperti sapi, babi, domba) yang berlebihan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal mencapai 30%. Tak hanya itu, sebuah studi literatur dalam Red Meat Heating Processes, Toxic Compounds and Health Risks: A Review disebutkan bahwa metode memasak daging merah juga sangat memengaruhi keamanan daging yang dikonsumsi.

Risiko kanker akibat daging merah berlebih akan semakin meningkat bila diolah dengan cara dibakar, digoreng, atau dipanggang. Metode tersebut dapat mendorong pembentukan senyawa karsinogenik seperti HCA dan PAH yang dapat memicu risiko kanker. Meski begitu, bukan berarti asupan daging tidak boleh dikonsumsi sama sekali. Daging merah tetap bisa menjadi sumber protein dan mineral yang baik bagi tubuh jika dikonsumsi secara tepat dan dengan jumlah yang tidak berlebihan.

2.Makanan cepat saji (Fast Food)

Makanan pemicu kanker berikutnya adalah jenis makanan cepat saji yang umumnya tinggi lemak jenuh, garam, dan gula. Dalam artikel Nutritional Epidemiology disebutkan bahwa mengonsumsi makanan cepat saji secara berlebihan disertai dengan kurangnya aktivitas fisik dapat memicu kenaikan berat badan secara berlebih atau obesitas.

Lalu, apa hubungan antara obesitas dan kanker? Seseorang dengan obesitas umumnya juga mengalami peradangan kronis tingkat rendah di dalam tubuhnya. Peradangan ini dapat berlangsung lama dan dapat memicu kerusakan atau mutasi DNA yang dapat meningkatkan risiko pertumbuhan kanker.

Pada beberapa kasus, obesitas juga dapat menyebabkan peningkatan kadar insulin di dalam darah. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kanker ginjal dan kanker prostat.

3.Gorengan/Makanan diproses suhu tinggi

Gorengan dan makanan bertepung yang dimasak pada suhu tinggi, diketahui dapat menghasilkan akrilamida, yaitu senyawa yang bersifat karsinogenik. Senyawa tersebut juga dapat merusak DNA dan menyebabkan kematian atau mutasi sel. Bahkan bukan hanya kanker, mengonsumsi gorengan berlebih juga dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas.

Kendati demikian, beberapa analisis meta (2022) menunjukkan bahwa akrilamida dari makanan sehari-hari tidak selalu dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker secara signifikan pada banyak jenis kanker. Sehingga, meski perlu diwaspadai, akrilamida tidak selalu berhubungan langsung pada kanker terutama pada dosis harian normal.

4.Makanan tinggi garam

Rasa asin pada makanan dapat memberikan kenikmatan tersendiri. Namun, tahukah bahwa makanan tinggi garam menjadi salah satu pemicu kanker? Garam memiliki efek karsinogenik yang dapat mendorong pertumbuhan sel kanker, terutama pada pengidap infeksi Helicobacter pylori.

Penelitian dalam Frontiers Nutrition (2021) menyebutkan asupan garam yang tinggi, baik dari garam tambahan maupun makanan yang sangat asin, dikaitkan dengan peningkatan kanker lambung. Hal ini karena garam tinggi dapat merusak mukosa lambung, memicu peradangan, dan meningkatkan laju proliferasi yang membuat sel menjadi lebih aktif dalam membelah sehingga memungkinkan adanya pertumbuhan sel abnormal penyebab kanker.

5.Makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan

Makanan pemicu kanker yang perlu dibatasi berikutnya adalah makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan, seperti pasta olahan, nasi putih, roti, dan berbagai jenis kue. Sebenarnya, gula sendiri tidak selalu langsung menyebabkan kanker, melainkan pengaruhnya melalui kondisi metabolik yang merangsang proses karsinogenesis. Makanan tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes dan obesitas yang erat kaitannya dengan peradangan dan stres oksidatif yang berisiko memicu kanker.

Meski begitu, bukan berarti makanan tersebut dilarang untuk dikonsumsi. Sebaiknya batasi gula sederhana dan karbohidrat olahan. Perbanyaklah konsumsi karbohidrat kompleks dan serat guna menurunkan risiko kanker.

6.Makanan instan/makanan kemasan

Makanan instan atau makanan kemasan sebaiknya dibatasi karena beberapa komponennya dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Beberapa produk kalengan atau kemasan dapat mengandung bisphenol-A (BPA) pada lapisan pembungkusnya, yakni bahan yang berpotensi mengganggu sistem hormonal, meskipun bukti kaitannya dengan kanker pada manusia masih belum konklusif.

Selain itu, banyak makanan instan mengandung garam, lemak, serta aditif dalam jumlah tinggi, termasuk natrium nitrit atau natrium benzoat, yang dalam kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap pembentukan senyawa karsinogenik.

Beberapa jenis makanan instan mengandung tepung yang diproses dalam suhu sangat tinggi juga dapat menghasilkan akrilamida. Karena faktor-faktor tersebut, konsumsi makanan instan sebaiknya dibatasi dan lebih bijak dipilih, terutama dengan memperhatikan kandungan sodium, aditif, dan cara pengolahannya.

7.Alkohol

Ketika dikonsumsi, alkohol akan dipecah oleh tubuh menjadi asetaldehida, yaitu senyawa karsinogenik yang dapat merusak DNA, mengganggu mekanisme perbaikan sel, serta melemahkan sistem imun dalam mengenali dan menghancurkan sel prakanker.

Konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan kadar hormon tertentu, seperti estrogen, yang berkaitan dengan risiko kanker payudara, serta memicu peradangan kronis dan kerusakan jaringan pada organ seperti hati.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidak ada batas konsumsi alkohol yang sepenuhnya aman terkait risiko kanker. Artinya, semakin tinggi asupan, semakin besar pula risikonya. Oleh karena itu, membatasi atau menghindari konsumsi alkohol menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko berbagai jenis kanker, seperti kanker mulut, tenggorokan, esofagus, liver, payudara, dan kolorektal.

Para ahli kesehatan menekankan bahwa kunci pencegahan kanker bukan hanya menghindari makanan tertentu, tetapi juga menjaga pola makan seimbang. Mengonsumsi lebih banyak sayur, buah, biji-bijian utuh, dan protein sehat dapat membantu tubuh melawan kerusakan sel.

Selain itu, gaya hidup sehat seperti olahraga rutin, tidur cukup, dan tidak merokok juga memiliki peran penting dalam menurunkan risiko kanker.

Tidak ada makanan yang secara langsung “memberi makan” kanker secara mutlak. Namun, pola makan tinggi gula, makanan olahan, dan lemak tidak sehat dapat menciptakan kondisi tubuh yang mendukung pertumbuhan sel kanker. Karena itu, menjaga pola makan sehat menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

Rekomendasi Berita