Tugu Perang Dunia II Manado Butuh Pembenahan Serius

  • 27 Agt 2025 15:18 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Objek wisata sejarah Tugu Perang Dunia II di Kota Manado kini butuh perhatian serius dari pemerintah daerah. Monumen bersejarah itu kondisinya sudah kusam, ditumbuhi lumut, dan mulai menghitam sehingga kurang menarik bagi wisatawan.

Tugu yang berdiri megah di samping Gereja GMIM Sentrum Manado ini mulai dibangun tahun 1946 oleh tentara Sekutu, dirancang arsitek Belanda Ir. C. J. Uit den Bosch. Monumen setinggi 40 meter dengan empat tiang penyangga dan kubus di puncaknya, didirikan untuk mengenang pengorbanan penduduk Manado yang menjadi korban keganasan Perang Dunia II.

Sejarah mencatat, Manado mengalami dua kali pengeboman besar. Pertama oleh pasukan Jepang pada 11 Januari 1942 saat menduduki Manado, kemudian oleh pasukan Sekutu pimpinan Jenderal Douglas MacArthur yang menilai Manado sebagai wilayah strategis. Serangan tersebut menewaskan banyak penduduk sipil, tokoh pemerintahan, dan militer Hindia Belanda.

Sejarawan sekaligus penulis buku, Judie J. Turambi, SH, menegaskan Tugu Perang Dunia II tidak boleh diubah bentuk aslinya karena merupakan bangunan unik dan otentik.

“Objek Tugu Perang Dunia II tidak bisa ditambah atau dikurangi bentuknya karena itu bangunan asli dan unik. Yang bisa dilakukan yakni dicat kembali agar menarik, namun sebelum melangkah harus berkonsultasi dengan Balai Cagar Budaya yang mengawasi,” ujarnya.

Turambi juga menilai perlu ada sosialisasi lebih gencar mengenai nilai sejarah Tugu tersebut, agar generasi muda dan wisatawan memahami arti pentingnya.

“Dinas Pariwisata Manado maupun Provinsi perlu menjadikan Tugu Perang Dunia II ini sebagai destinasi wisata sejarah. Kondisinya sudah berlumut dan menghitam, makanya harus segera ditata kembali,” jelasnya.

Keberadaan monumen yang dikenal pula sebagai “Monumen Kenangan Perang Dunia II” ini menjadi simbol sejarah yang tak ternilai bagi warga Manado. Karenanya, pembenahan sekaligus penetapan sebagai benda atau situs cagar budaya dinilai penting demi menjaga warisan sejarah sekaligus menarik kunjungan wisatawan.

(Fika Hamzah)

Rekomendasi Berita