Ratusan Umat Hindu NTB Gelar Segara Kertih di Pantai Melase

  • 16 Feb 2026 17:20 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Ratusan umat Hindu di Nusa Tenggara Barat menggelar upacara sakral Segara Kertih pada Senin sore, 16 Februari 2026, di Pantai Melase, Batu Layar, Lombok Barat. Kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian umat Hindu terhadap kelestarian laut serta menjaga keseimbangan alam semesta.

Upacara Segara Kertih merupakan bagian dari rangkaian Sad Kertih, ajaran luhur dalam agama Hindu yang menekankan kewajiban manusia untuk menjaga sumber-sumber kehidupan, seperti laut, hutan, dan danau.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat, I Wayan Karioka, menegaskan Segara Kertih bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan bentuk tanggung jawab spiritual sekaligus ekologis umat Hindu.

“Sumber-sumber kehidupan dalam keyakinan umat Hindu harus dijaga dengan baik. Ada Danu Kertih di danau, Wana Kertih di hutan dan gunung, dan hari ini Segara Kertih di laut. Laut adalah sumber kehidupan yang wajib kita rawat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Segara Kertih merupakan implementasi ajaran Tri Hita Karana, khususnya aspek Palemahan, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam semesta.

Selain itu, kegiatan ini juga sejalan dengan program penguatan ekoteologi yang terus digaungkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, yakni mendorong seluruh umat beragama untuk menjadikan ajaran agama sebagai landasan pelestarian lingkungan hidup. Nilai-nilai spiritual tidak hanya diwujudkan dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam tindakan nyata merawat bumi sebagai ciptaan Tuhan.

Rangkaian upacara dilaksanakan secara sakala dan niskala, dimulai dari prosesi mecaru, pementasan tarian sakral, topeng Sidakarya, persembahyangan bersama, hingga pelepasan pekelem berupa anak penyu ke laut dan pengambilan amerta yang disimpan dalam botol. Seluruh rangkaian tersebut mengandung makna pemulihan keseimbangan ekosistem serta penyucian alam dari berbagai bentuk kerusakan.

“Tujuan mecaru dan persembahyangan ini adalah membersihkan dan menjaga keseimbangan alam semesta. Ini adalah kewajiban spiritual umat Hindu,” katanya.

Segara Kertih sendiri merupakan kearifan lokal Hindu yang bermakna upaya penyucian dan pelestarian laut sebagai sumber kehidupan. Laut dipandang sebagai tempat peleburan segala kekeruhan sekaligus elemen alam yang memiliki nilai sakral dan ekologis. Melalui ritual ini, umat Hindu diingatkan untuk tidak mencemari laut dan menjaga kelestarian pesisir.

“Ini bukan hanya upacara simbolik. Segara Kertih adalah panggilan moral agar kita merawat air, merawat semesta, dan menjaga keseimbangan hidup,” tegasnya.

Upacara ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun di berbagai lokasi, mulai dari laut, hutan, hingga danau, sebagai bentuk konsistensi umat Hindu dalam menjaga alam dan lingkungan.

Kegiatan tersebut dihadiri tokoh-tokoh umat Hindu, berbagai organisasi keagamaan Hindu, serta mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Kehadiran ratusan umat memadati kawasan pantai menunjukkan tingginya komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam dan nilai-nilai spiritual.

Di akhir kegiatan, Wayan Karioka juga menyampaikan pesan kebangsaan menjelang momentum ibadah umat agama lain.

“Kami mengimbau seluruh umat Hindu untuk terus menjaga kedamaian dan toleransi, terutama menjelang saudara-saudara Muslim menjalankan ibadah puasa. Mari kita rawat kebhinekaan ini dengan damai dan bahagia,” tutupnya.

Rekomendasi Berita