Cerita Hani: Gagal Bukan Akhir, Tapi Bagian dari Proses Bertumbuh
- 02 Jan 2026 09:20 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Tsania Putri Hanifa, atau yang akrab disapa Hani, menjadi salah satu pemuda inspiratif yang berbagi kisah perjuangan dalam Program SPADA (Suara Pemuda Berkarya), kolaborasi RRI Pro 2 Mataram bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi NTB. Melalui sesi siaran tersebut, Hani membuka ruang refleksi tentang perjalanan anak muda yang penuh proses, mulai dari mencoba, gagal, hingga bangkit kembali.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga ini mengungkapkan bahwa keputusannya mengikuti berbagai kompetisi sering berangkat dari hal-hal sederhana. Salah satunya, ketika ia mendaftar lomba karena babak finalnya digelar di Lombok.
“Awalnya mikir, yaudahlah coba aja dulu, siapa tahu bisa sekalian pulang ke Lombok,” ujarnya sambil tertawa, belum lama ini.
Namun perjalanan itu tak selalu mulus. Pada tahap penyisihan, Hani sempat berada di peringkat keenam dan mengira langkahnya terhenti. Tak disangka, salah satu peserta lima besar mengundurkan diri, membuat posisinya naik ke peringkat kelima dan melaju ke tahap berikutnya.
“Di situ aku sadar, ternyata belum tentu sesuatu yang kita kira gagal itu benar-benar akhir. Kadang kita merasa sudah usaha maksimal, tapi ternyata itu belum yang terbaik menurut Allah,” tuturnya.
Bagi Hani, kegagalan bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Ia mengibaratkan kegagalan seperti sebuah tabungan—tidak langsung terlihat hasilnya, namun suatu hari akan sangat berguna.
“Aku selalu nganggep gagal itu kayak nabung. Mungkin belum kelihatan sekarang, tapi suatu hari pasti kepakai,” tambahnya.
Dalam sesi SPADA tersebut, Hani juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan orang-orang terdekat yang menjadi support system dalam setiap langkahnya, baik saat mengikuti lomba maupun menghadapi tekanan akademik. Dukungan inilah yang membuatnya terus kuat untuk mencoba, meskipun harus jatuh berkali-kali.
Ia juga berbagi pengalaman dalam mengatur waktu antara kuliah, lomba, dan aktivitas lainnya. Menurutnya, manajemen waktu bukan soal mengisi hari dengan kesibukan, melainkan tentang memahami prioritas dan memberi ruang untuk diri sendiri.
Menutup sesi siaran, Hani merefleksikan tentang privilege yang ia miliki sebagai mahasiswa yang mendapat akses pendidikan dan ruang berkembang. Ia menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.
“Ke depan, aku ingin lebih maksimal memanfaatkan privilege yang aku punya selama kuliah. Karena aku sadar, tidak semua orang punya kesempatan yang sama. Jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Tahun 2025 menjadi self reward tersendiri bagi Hani sebagai tantangan pertama yang berhasil ia taklukkan sebagai mahasiswa baru. Sejak duduk di bangku SMA, Hani telah menorehkan berbagai prestasi, di antaranya Juara 2 Lomba Pidato Bahasa Inggris Tingkat Nasional FEB Unram 2024, Juara 1 Lomba Aransemen Lagu Nusantara RRI Mataram 2023, Juara 1 Paduan Suara SMANSA pada Lombok Choir Festival 2023 dan 2024, serta Runner Up Lomba Paduan Suara MIPA Expo Universitas Islam Bandung.
Deretan prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kesungguhan dalam merawat mimpi dan target akan membuka jalan menuju kesuksesan berikutnya.
Melalui Program SPADA, kisah Hani menjadi pengingat bahwa perjalanan pemuda tidak selalu berjalan lurus. Ada ragu, jatuh, dan gagal, namun justru di sanalah proses bertumbuh terjadi—bukan tentang seberapa cepat sampai, melainkan seberapa sadar kita belajar di setiap langkah.
Apresiasi dan terima kasih disampaikan kepada Dispora Provinsi NTB dan Pro 2 FM RRI Mataram atas dukungan nyata dalam menghadirkan ruang-ruang berbagi dan interaksi bagi pemuda. Diharapkan sinergi ini terus berlanjut dan mampu menginspirasi generasi muda untuk berkontribusi membangun NTB yang makmur dan mendunia.